Senin, 10 Desember 2018

Biodata Penulis

Nama                           : Khomsatun Rosalina
Tempat, Tanggal lahir : Pemalang, 12 Oktober 1999
Alamat                        : Jl. Pancakarya Rt. 02/010, No. 04 Pedurungan Timur-Taman-Pemalang
Riwayat Pendidikan   : -      TK Muslimat Pedurungan Timur
-          MI Tarbiyatut Ta’alumul Huda
-          SMP Negeri 3 Taman
-          SMA Negeri 2 Pemalang
-          IAIN Pekalongan

video qasidah favorite


video clip group showalat Sabyan - Deen Assalam



Mengenang qasidah lawas tahun 2009 bersama Langitan - Hubbu Ahmadi (Mencintai Nabi Ahmad)


 

Nostalgia dengan penyanyi nasyid kondang, Sulis - Ya Thoyyibah


Minggu, 09 Desember 2018

Terima Kasihku

Assalamu'alaikum...
Dengan hormat,

kami mengucapkan terimakasih kepada ustad Muhamad Nasim, M. Kom yang telah mengajari APLIKOM kepada kita yang tadinya minim teknologi menjadi tahu, dan beberapa teman saya sudah mengimplementasikannya di rumah maupun di masyarakat.

sehingga bermanfaat bagi kami dalam mengoperasikan komputer dan membedakan beberapa aplikasi yang ada, bimbingan dan kesabarannya kami ucapkan banyak terima kasih serta minta maaf jika ada kesalahan yang tidak disengaja.

wassalamu'alaikum...


Hormat saya,



Khomsatun Rosalina

TT G Subject Pendidikan “Hakiki” I (Allah sebagai Pendidik)


SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI (ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Makalah
Disusun  guna Memenuhi Tugas Tafsir Tarbawi
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, MSI
Disusun Oleh:
1.      Aminnata Rokhiyah                        (2117147)


Kelas B
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2018


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Al-qur’an tidak hanya sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu, melainkan suatu petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat disepanjang masa dan waktu. Al- qur’an tetap eksis disepanjang zaman dan tempat. Petunjuknya sangat luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala kehidupan.
Segala keilmuan ada dalam al-qur’an, seperti ilmu Tafsir, Fiqih, Tauhid semua itu dapat digali secara langsung dalam al qur’an, tak hanya itu saja ilmu pengetahuan lain pun dapat kita pelajari dalam al-qur’an, baik ilmu teknologi dan bidang keilmuan lainnya.
Al- qur’an merupakan sumber dari segala sumber, merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang diawali dengan surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An- Nass. Untuk memberikan pengetahuan bagi seluruh umat manusia. Setiap ayat yang terkandung dalam al-qur’an memiliki segudang ilmu yang dapat memberikan kemanfaatan. Tak hanya itu saja, Al-qur’an memiliki banyak sekali keistimewaan, membaca nya saja mendapatkan berjuta-juta pahala apalagi mempelajari dan memahaminya, keberkahan akan didapatkan bagi siapa saja yang mempelajari dan mengamalkan al-qur’an.
Adapun makna pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan berperan sebagai pembentukan akhlak. Menentukan baik atau buruknya pribadi manusia secara normatif. Oleh karena itu kita sebagai calon pendidik terutama bidang pendidikan sepatutnya
A.    Rumusan masalah
1.      Apa itu pendidik ?
2.      Bagaimana hakikat pendidik ?
3.      Sebutkan dalil tentang Allah sebagai pendidik ?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Pendidik
Pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mmendidik. Dalam arti luas dapat dikatakan bahwa pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang memberikan pengaruh terhadap pembinaan orang lain (peserta didik)agar tumbuh dan berkembang potensinya menuju kesempurnaan. Wiji Sunarno (2006:37)menjelaslkan bahwa pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain (peserta didik) untuk mencapai tingkat kesempurnaan (kemanusiaan) yang lebih tinggi.
Pendidik adalah orang yang tugasnya sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, pengurus dan pemerbaharu( pemerbaik) biasa disebut dengan kata Murabby. Apabila istilah pendidikan diambil dari kata ta’lim maka istilah pendidik disebut juga dengan mu’allim, namun jika diambil dari kata ta’dib maka istilah pendidik dapat disebut sebagai mu’addib.[1]
Dalam prespektif islam pendidik dapat dikategorikan sebagai berikut :
1.      Mu’allim, artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan yang luas, dan mampu menjelaskan / mengajarkan/ mentransfer ilmu yang dia memiliki kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam kehidupan.
2.      Mu’addib, artinya seorang yang memiliki kedisiplinan kerja yang dilandasi dengan etika, moral, dan sikap yang santun, serta menanamkannya pada peserta didik melalui contoh untuk ditiru oleh peserta didik.
3.      Mudarris, artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan inteletual lebih, dan berusaha membantu dan mmenghilangkan, menghapus kebodohan/ketidaktahuan. Peserta didik dengan cara mmelatih intelektualnya (intelectual training) melalui proses pembelajaran, sehingga peserta didik memiliki kecerdasan dan keterampilan.
4.      Mursyid, artinya orang yang memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan berakhlak mulia. [2]
Sifat-sifat pendidik adalah 1) Memmiliki sifat kasih sayang; 2) lemah lembut; 3) rendah hati ;4) memiliki ilmu pengetahuan ; 5) adil; 6) ijitihad; 7) konsekuen ; 8) sederhana.[3]
Jika dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal dari Allah, yang dalam beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik. Didalam surat al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ        
Artinya: segala puji bagi Allah,Tuhan semesta alam.         
Imam al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.[4]  
B.     Dalil Allah SWT sebagai pendidik
الرَّØ­ْÙ…َÙ†ُ (Ù¡
 Ø¹َÙ„َّÙ…َ الْÙ‚ُرْآنَ (Ù¢
 Ø®َÙ„َÙ‚َ الإنْسَانَ (Ù£
 Ø¹َÙ„َّÙ…َÙ‡ُ الْبَÙŠَانَ (Ù¤
(1) (tuhan) yang Maha pemurah,
(2) yang telah mengajarkan Al Quran.
(3) Dia menciptakan manusia.
(4) mengajarnya pandai berbicara.
1.      Tafsir Al- Azhar
(1)   Ar-Rahman,yang maha pemurah
Arti dari ar-rahman adalah amat luas, kalimat dalam pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang, cinta, pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang didalam segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita sering menjumpai kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan semuanya itu mengandung akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Bahkan dalam memulai membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali dengan Bismmillahirahmanirrahim,maka didalam surat ini dikhususkanlah menyebut Allah dengan sifatNya yang paling meminta perhatian kita. Kalau Allah pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru pula sifat Allah. Setelah itu Allah memperincikan rahmatNya itu.
(2)   Yangmengajarkan Al-Qur’an
Inilah salah satu dari rahman, atau kasih sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia itu al-qur’an, yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada NabiNya Muhammad SAW yang dengan al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada terang benderang. Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-Qur’an kepada manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada manusia. Rahmat ilahi yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepad manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi yang diketahui itu al-qur’an.
(3)   Yang menciptakan manusia
Penciptaan manusia pun adalah satu diantara tanda rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk ilahi didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Maka terbentanglah alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka dengan rahmat Allah yang ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya dapatlah manusia itu menyesuaikan dirinya dengan alam.
Misalnya hujan turu, air mengalir dan manusia membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang satu dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran. Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
(4)   Yang mengajarkannya berbicara
Barulah rahman Allah pada manusia lebih semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan menyatakan perasaan hatinya dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab disebut al-bayaan yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa dihati. Sehingga timbulah bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu diantara Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta buku dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa dihati sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.[5]
2.      Tafsir Al- Maraghi
1)      Tafsir al-mufradat
Ar-rahman : salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma ul husna)
Al insan : Umat manusia
Al bayan : kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang lain
Bi husban : dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm : tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan : keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti halnya orang-orang mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha : Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat tinggi, tempat dan tingkatanya.
Al-Mizan : keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi : Luruskanlah timbangan kalian dengan adil
La Tukhsirul mizan : janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam : untuk makhluk  Allah
Al-Akman : jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok kurma
Al –Ashf : Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan : tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la : Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau dikasrahkan) dan juga ilyun dan ilwun. Artinya, kenikmatan.[6]




2)      Penjelasan
Ayat 1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk makkah, pada surat ini Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling sempurna faidahnya. Yaitu nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena dengan al-qur’an akan memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah menyebut nikmat tersebut, maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan yang merupakan pangkal dari segala urusan.
Ayat 3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan mengajarinya apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam sanubarinya. Oleh karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup kecuali bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa tertandingi. Dengan nikmat lainya.
      Pertama-tama Allah menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit yang di manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[7]
C.     Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah swt pada hakikatnya adalah pendidik  bagi seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk. Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam arti tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah pendidikan islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al- alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar kepada Allah, mempelajari al-asma  kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan dihadapan Allah swt.
Dalam islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara, dan pendidik semesta alam.[8]   






















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Allah sebagai pendidik utama yang menyampaikan kepada para Nabi berupa berita gembira untuk disampaikan kepada umat manusia. Allah mendidik manusia dengan perantara membaca. Pendidikan Allah mencakup semua kebutuhan Alam semesta ini, allah sebagai pendidik alam semesta dengan penuh kasih sayang , Allah sebagai pendidik telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad berupa turunnya ayat-ayat yang pada intinya sebagai imtisial yang disampaikan pada nabi untuk disebarkan kepada umatnya.























DAFTAR PUSTAKA
Al-rasyidin,2008. Falsafah Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka Media Perintis)
Hamka, 2000 .Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka Panjimas)
Mustafa Al- Maraghi.Ahmad, Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha Putra)
Nata.Abudin,2016 Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta : PRENAMEDIA GROUP)
Yasin. A. Fatah,2008. Dimensi-dimensi pendidikan islam (Malang:Sukses Offset)























[1] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi pendidikan islam (Malang:Sukses Offset, 2008) hlm,.68-69
[2] A Fatah Yasin, Ibid, hlm. 85-86
[3] Ibid, hlm 89
[4] Abudin Nata, Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta : PRENAMEDIA GROUP ,2016) hlm 3
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) hlm 179-182
[6] Ahmad Mustafa Al- Maraghi, Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha Putra) hlm. 194
[7] Ibid, hlm 195- 197
[8] Al-rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka Media Perintis,2008)hlm, 148-149

TT G Subject Pendidikan “Hakiki” II (Karakter Allah sebagai Pendidik)


MAKALAH
SUBYEK PENDIDIKAN “HAKIKI” DAAM QS AL FATIHAH 1: 1-4
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen pengampu : Muhammad Hufron M.S.I

                                                                                         
Disusun oleh :

1.    Rokhana Hayati                (2117177)

Kelas : B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018


KATA PENGANTAR

Segala Puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT karena limpahan rohmat serta anugerah darinya sehingga saya mampu untuk merampungkan makalah dengan judul “SUBYEK PENDIDIKAN “HAKIKI” DAAM QS AL FATIHAH 1: 1-4
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)” ini. Sholawat dan salam selalu kita ucapkan dan curahkan untuk junjungan nabi agung kita, Nabi Muhammad SAW yang sudah menyampaikan petunjuk Allah SWT untuk kita semua, sebuah petunjuk paling benar yakni syariah agama islam yang sempurna dan satu satunya karunia paling besar kepada seluruh alam semesta.
Penulis benar-benar berterima kasih sebab mampu menyelesaikan makalah yang termasuk dari tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi Selain itu, kami menyampaikan terima kasih yang banyak terhadap seluruh pihak yang sudah membantu saya selama berlangsungnya penyelesaian makalah sampai bisa terselesaikan makalah ini.
Begitulah yang bisa saya  haturkan, saya berharap supaya makalah ini bisa berguna kepada setiap pembaca. Kami menyadari dengan sangat, bahwa makalah yang kami tulis ini masih banyak kekurangannya.

Senin, 18  Oktober 2018

Penulis            



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR........................................................................................................ 2
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG................................................................................................... 4
B.  RUMUSAN MASALAH............................................................................................... 4
C.  TUJUAN MASALAH................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.  KARAKTER PENDIDIK............................................................................................. 5
B.  DALIL KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK.............................................. 8
C.  AL ‘ASMA ‘AL HUSNA............................................................................................ 12
BAB III PENUTUP
KESIMUPULAN.............................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 15






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mendidik adalah suatu tugas dan  kewajiban para orang tua dalam lingkungan keluarga, pendidikan dilingkungan sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan manapun dan situasai apapun, seorang pendidik dituntut untuk membuat peserta didik mampu menyerap dan memahami pengajaran yang disampaikan. Selain itu, pendidik juga harus memiiliki karakter sebagai pendidik untuk menjadi modal utama untuk tercapainya tujuan tersebut, karena tanpa memiliki karakter pendidikan tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Karakter pendidik juga dimiliki oleh Allah SWT. Karakter Allah sebagai pendidik telah di jelaskan dalam salah satu surat dalam Al-Qur’an dan juga asma-asma Allah dalam Al ‘Asma Al Husna. Untuk mengetahui apa saja karakter seorang pendidik, dan karakter Allah sebagai pendidik akan dijelaskan dalam makalah ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana karakter pendidik?
2.      Apa saja dalil karakter Allah sebagai Pendidik?
3.      Jelaskan apa itu Al ‘asma al husma?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui krakter pendidik
2.      Untuk mengetahui dalil karakter Allah sebagai pendidik
3.      Untuk mengetahui apa itu Al ‘Asma Al Husma





BAB II
                                        PEMBAHASAN
A.    Karakter pendidik
Dalam segi bahasa pendidik adalah orang yang mendidik, dari segi pengertian ini timbul kesan bahwa pendidik ialah orang yang melakukan melakukan kegiatan dalam hal mendidik. Dalam bahasa inggris ditemui beberapa kata yang mendekatai maknanya dengan pendidik. Kata –kata tersebut seperti teacher yang berarti guru atau pengajar, dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang dirumah. Dalam bahasa Arab dijumpai kata Ustadz, Mudarrist, Mu’allim dan Muad’dib. Kata ustadz jama’nya Asaatidz yang berarti teacher atau guru, proffesor (gelar akademik atau jenjang bidang intelektual), penulis, dan penyair. Sementara kaa mudarris berarti teacher (guru), instrucrur (pelatih), dan lecturer (dosen). Selanjutnya kata Muallim yang berarti teacher (guru) trainer ( pemandu). Kemudian kata Muad’dib berarti Educator(pendidik) atau teacher in Quranic School (guru dalaam lembaga pendidikan alquran).[1]
Allah SWT sebagai pendidik utama untuk menginginkan umat manusia menjadi baik dan hidup dengan bahagia baik di dunia maupun diakhirat. Oleh karena itu mahluknya harus memiliki bekal berupa etika dan pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebu, Allah AWT mengutus para Nabi-Nya sebagai perantara hidayah untuk patuh dan tunduk kepada-Nya dan menyampaikan ajaran kepada semua makhluk manusia.
Firman Allah
Sesungguhnya Allah tellah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab  dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (WS Ali Imran [3];164).
Dari berbagai ayat al-Quran yang menerangkan tentang kedudukan Allah SWT  sebagai pendidik dapat dipahami bahwasannya Allah SWT memiliki pengetahuan yang sangat luas dan ini merupakan isyarat bagi makhluknya bahwasanya seorang pendidik haruslah sebagai peneliti yang memiliki penemuan0penemuan baru. Sifat yang dimiliki Allah SWT yang lainnya adalah maha pemurah yang artinya Allah SWT tidak kikir tentang ilmu-Nya.
 Didalam Buku mencetak Generasi Rabbani disebutkan sepuluh karakter yang harus dimiliki oleh pendidik dalam  pendidikan adalah :
1.      Ikhlas
Rawatlah dan didiklah dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Cangkangkan niat semata-mata untuk Allah Ta’ala dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perinta, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman
2.      Bertakwa
Hiasi diri anda dengan ketakwaan, sebab, pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan islam.
3.      Berrilmu
Sebuah keharusan bahwa kedua orang tua harus mempunyai perbekalan ilmu yang memadai. Orang tua harus konsep-konsep dasar pendidikan dalam islam. Mengetahui halal dan haram, prinsip-prinsip etika islam serta memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at islam.
4.      Bertanggung jawab
Memiliki rasa tsnggung jawab yang besaar dalam pendidik.
5.      Sabar dan Tabah
Dua difat ini mutlak dibutuhlkan oleh setiap pendidik. Debab dalam prses pendidikan tentu sangat banyak tantangan dan ujian.
6.      Lemah lembut dan tidak kasar
Sifat lemah lembut ini akan membuat seseorang (peserta didik) menjadi nyaman dan lebih udah menerima pengajaran.
7.      Penyayang
Perasaan sayang ini yang akan menjadi penghangat suasana dan menjadi proses pengajaran menjadi nyaman dan menyenangkan.
8.      Lunak dan Fleksibel
Lunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan enyeluruh. Maksudnya disini lebih mengarah pada sikap mempermudah urusan dan tidak pempersulitnya.
9.      Tidak mudah marah
Sifat mudah marah merupakan bagian dari sifat negative dalam pendidikan. Jika seorang pendidik mampu mengendalikan diri dan menahan amarahnya, maka hal itu akan membawakeberuntungan bagi dirinya dan peserta didiknya
10.  Dekat namun berwibawa
Pendidik yang sukses adalah pendidik yang benar-benar dekat dihati peserta didik. Mereka selalu merindukannya mereka erasa gembira dan bahagia bersamanya. Ya, pendidik yang mengasihi dan dikasihi. Peserta didik buksn tskut padanya, namun mereka sayang, hormat dan segan melanggar perintah dan kata-katanya. [2]
B.     Dalil Karakter Allah Sebagai Pendidik
QS. Al-Fatihah 1: 1-4
Artinya:
1.      Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
2.      Segala pujia bagi Allah, Tuhan semesta alam
3.      Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang
4.      Yang menguasai hari pembalasan[3]
Tafsir Ayat
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kalimat basmalah tersebut bermakna: “ Aku memulai bacaanku ini seraya memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Idiom “nama Allah” berarti mencakup semua nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada Tuhannya. Dalam pemohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah yang sesuai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.[4]
     Allah adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya hanya beriadahdan menyembah kepada-Nya. [5]
Segala pujia bagi Allah, Tuhan semesta alam
     Ayat ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; serta baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Didalam ayat itu pula, terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih , Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal saleh.
Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu arrahman. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.
     Banyak para ulama membedakan antara makna ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan ar-Rahim adalah sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus untuk orang mukmin saja. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim merupakan sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus.[6]
Yang menguasai hari pembalasan
Dalam ayat ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i dan Ya’qub membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Sedangkan para qari yang lain membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Meski bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik. Bermakna Yang Maha Kuasa untuk menciptakan seuatu dari tidak ada menjadi ada. Tidak ada mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT. [7]
     Menurut ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi, ayat tersebut berarti “yang memutuskan di hari perhitungan.” Menurut Qatadah, kata ad-din berarti pembalasan. Dalam hal ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari ketika tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama.” Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti hari ketaatan.[8] Saat itu, hanya ketaatan hamba kepada Tuhan yang menyelamatkannya  dari siksaan neraka.
Menurut Al-Maraghi dalam penafsiran adalah sebagai berikut:
Dua kata ini brasal dari kata Rahman: artinya suatu gejolak jiwa yag hidup dengan perasaan kasih sayang terhadap lainnya. Kemudian, kata ini di pakai untuk Allah berarti Allah bersifat Rahman dan Rahim.
Kata Rahman, pengertiannya menunukkan kepada zat yang menunjukkan bukti-bukti Rahmah-berupa kenikmatan-kenikmatan dan kebajikan-kebajikan. Sedangkan kata Rahim menunjukkan sumber rahmah, dan Rahim menunjukkan sifat tetap ada pada Allah.
Apabila Allah disifati dengan sifat Rahman. Hal ini dipahamkan secara bahasa bahwa Allah pemberi kenikmatan. Tetapi sifat Rahman ini tidak bisa di pahamkan wajib baginAllah untuk selamanya. Tetapi jika setelah  sifat rahman itu Allah disifati dengan sifat Rahim, maka sapat diketahui bahwa Allah mempunyai sifat yang tetap selamanya, yakni Rahim. Sebagai bukti adalah kasih sayang yang berlaku selama-lamanya. Kedua sifat ini pun mempunyai pengertian lain dengan yang dinisbatkan kepada makhluk.[9]
C.    Al ‘Asma Al Husna
Asma ‘ul husna menurut etimologi berasal dari berasasal dari kata al-asma dan al-husna, al-asma yang berarti nama sedangkan husna merupakan muannasst dari al-Ahsan beraarti baik. Jadi, al-asma’ al-husna yaitu nama-nama yang baik. Menurut Istilah yakni Allah memiliki asma-asma yang baik yang sembilan puluh sembilan sebagaimana disebutkan dalam hadist. Selain itu menurut Quraisy Shihab asma’ul husna memiliki suatu pegertian, yaitu dengan meningkatkan bahwa ada fitrah insting keberagamaan dalam diri seorang insan. Disana tertampung berbagai emosi manusia seperti rasa takut, harap, cemas, cinta, kesetiaan, penanggungan, pensucian diri dari berbagai macam lainnya yang mengiasi jiwa manusia.[10]
Salah satu nama Allah yang baik adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Lafal ar-rahman dan ar-rahim menunjukan, Allah menyifati diri-Nya sedengan kasih dan sayang yang maha luas. Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada seorang pun dan apapun yang memiliki sifat yang menyerupai kedua sifat-Nya  itu, karena rahmat-Nya ditaburkan kepada semua makhluk, dan tak ada satu makhluk  pun  yang tidak menerima rahmat walaupun sekejab mata, maka dapat kita memahami konsekuensi-konsekuensi makna yang timbul dari keduanya, yaitu sebagai berikut.
Pertama, kedua sifat tersebut menunjukkan kesempurnaan pada hidup Allah, pada kekuasaan, pada cakupan ilmu, pada keberlakuan kehendak, dan pada kebijaksanaan-Nya , karena rahmat-Nya terikat pada sifat-sifat tersebut secara khusus.
Kedua, bahwa syariat yang diturunkan Allah merupakan nur dan rahmat-Nya. Itulah sebabnya mengapa Alquran selalu mengaitkan dengan hukum-hukum syara’ dengan rahmat dan kebikan-Nya karena hukum-hukum syara’ merupakan efek dan penjabaran dari rahmat tersebut.[11]













BAB III
                                      PENUTUP
A.    Kesimpulan
Karakter seorang pendidik salah satunya adalah AR-RAHMAN dan AR-RAHIM yang artinya pengasih dan penyayang. Karakter tersebut juga dimiliki oleh Allah SWT hal itu terdapat dalam Al- Qur’an surat Al Fatihah ayat ke 3 yang artinya maha Pemurah lagi maha Penyayang  yang tafsirannya Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu arrahman. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan. Selain di jelaskan dalam surat Al-Fatihah juga ada dalam Al ‘Asma Al Husna yaitu asma allha berupa Ar-Rahman dan Ar- Rahim.








DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman bin Nashir bin Sa’adi, 1422 H, Tafsir zl-Lathif al-Mannan fi
Khulash Tafsir al-Qur’an, Saudi Arabia: wizarah asy-syu’unal-Islamiyah waalAuqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arrabiyyah as-Su’uddiyyah
Al-Husaini, Abu Muhammad bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, 1997
Riyadh:  Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, , juz 1
Al-Maraghi, Mustofa, Tafsir Al-Maraghi ,terj. Jilid 1, 1993, Semarang: Toha
Putra
Choiriyah  Ihsan & Abu Ihsan al-atsary, 2013 Mencetak Generasi Rabbani
,Bogor: Darul ilmi Publishing
Dahlan, Abd. Rahman, 2014,Kaidah-Kaidah Tafsir, Jakarta: Amzah
Rakhmat, Jalaluddin, 1993 Tafsir Bil Ma’tsur Pesan Moral Alqur’an,  Bandung:
PT Remaja Rosdakarya
Ramayulis, 2012 Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia,
Shihab, Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam al-Qur’an, 2004
Jakarta: Lentera Hati,









LAMPIRAN
                    
     


BIODATA
Nama               :  Rokhana Hayati
TTL                 : Pekalongan, 14 Juli 1998
Alamat                        : Ds. Kwasen Kec. Kesesi Kab. Pekalongan RT 01/ RW 03
Moto Hidup    : Sentuh masa depan dengan belajar
Riwayat Pendidikan:
TK PERTIWI DESA KWASEN
SDN 02 KWASEN
SMPN 2 KESESI
SMAN 1 KESESI
Sekarang masih menempuh pendidikan di IAIN PEKALONGAN



[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2012) hlm 102
[2] Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al-atsary, Mencetak Generasi Rabbani (Bogor : Darul ilmi Publishing, 2013) hlm. 47-59
[3] Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Bil Ma’tsur Pesan Moral Alqur’an , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993) hlm. 13
[4] Abdurrahman bin Nashirbin Sa’adi, Tafsir al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an,(Saudi Arabia: wizarah asy-syu’unal-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arrabiyyah as-Su’uddiyyah, 144 H, hlm. 10
[5] Ibid
[7] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, (Riyadh:  Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997), juz 1, hlm. 53
[8] Ibid.
[9] Mustofa  al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi ,terj. Jilid 1,(Semarang: Toha Putra,1993) hlm.1
[10] Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2004) hlm  xvii
[11]Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-Kaidah Tafsir,( Jakarta: Amzah,2014), hlm. 6