SUBYEK
PENDIDIKAN HAKIKI (ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Makalah
Disusun guna Memenuhi Tugas Tafsir Tarbawi
Mata
Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen
Pengampu : Muhammad Ghufron, MSI

Disusun
Oleh:
1. Aminnata Rokhiyah (2117147)
Kelas B
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Al-qur’an tidak hanya
sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu,
melainkan suatu petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat disepanjang masa dan
waktu. Al- qur’an tetap eksis disepanjang zaman dan tempat. Petunjuknya sangat
luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala kehidupan.
Segala keilmuan ada dalam al-qur’an, seperti
ilmu Tafsir, Fiqih, Tauhid semua itu dapat digali secara langsung dalam al
qur’an, tak hanya itu saja ilmu pengetahuan lain pun dapat kita pelajari dalam al-qur’an,
baik ilmu teknologi dan bidang keilmuan lainnya.
Al- qur’an merupakan sumber
dari segala sumber, merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Saw, yang diawali dengan surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An- Nass.
Untuk memberikan pengetahuan bagi seluruh umat manusia. Setiap ayat yang
terkandung dalam al-qur’an memiliki segudang ilmu yang dapat memberikan
kemanfaatan. Tak hanya itu saja, Al-qur’an memiliki banyak sekali keistimewaan,
membaca nya saja mendapatkan berjuta-juta pahala apalagi mempelajari dan
memahaminya, keberkahan akan didapatkan bagi siapa saja yang mempelajari dan
mengamalkan al-qur’an.
Adapun makna pendidikan
merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan berperan
sebagai pembentukan akhlak. Menentukan baik atau buruknya pribadi manusia
secara normatif. Oleh karena itu kita sebagai calon pendidik terutama bidang
pendidikan sepatutnya
A.
Rumusan masalah
1. Apa itu pendidik ?
2. Bagaimana hakikat pendidik ?
3. Sebutkan dalil tentang Allah
sebagai pendidik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pendidik
Pengertian pendidik adalah
orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang
yang melakukan kegiatan dalam bidang mmendidik. Dalam arti luas dapat dikatakan
bahwa pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang memberikan pengaruh
terhadap pembinaan orang lain (peserta didik)agar tumbuh dan berkembang
potensinya menuju kesempurnaan. Wiji Sunarno (2006:37)menjelaslkan bahwa
pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain (peserta
didik) untuk mencapai tingkat kesempurnaan (kemanusiaan) yang lebih tinggi.
Pendidik adalah orang yang
tugasnya sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, pengurus dan pemerbaharu(
pemerbaik) biasa disebut dengan kata Murabby. Apabila istilah pendidikan
diambil dari kata ta’lim maka istilah pendidik disebut juga dengan mu’allim,
namun jika diambil dari kata ta’dib maka istilah pendidik dapat disebut sebagai
mu’addib.[1]
Dalam prespektif islam
pendidik dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Mu’allim, artinya bahwa
seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan yang
luas, dan mampu menjelaskan / mengajarkan/ mentransfer ilmu yang dia memiliki
kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam
kehidupan.
2. Mu’addib, artinya seorang
yang memiliki kedisiplinan kerja yang dilandasi dengan etika, moral, dan sikap
yang santun, serta menanamkannya pada peserta didik melalui contoh untuk ditiru
oleh peserta didik.
3. Mudarris, artinya orang yang
memiliki tingkat kecerdasan inteletual lebih, dan berusaha membantu dan
mmenghilangkan, menghapus kebodohan/ketidaktahuan. Peserta didik dengan cara
mmelatih intelektualnya (intelectual training) melalui proses pembelajaran,
sehingga peserta didik memiliki kecerdasan dan keterampilan.
4. Mursyid, artinya orang yang
memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat penghayatan yang mendalam
terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan berakhlak mulia. [2]
Sifat-sifat pendidik adalah 1) Memmiliki sifat
kasih sayang; 2) lemah lembut; 3) rendah hati ;4) memiliki ilmu pengetahuan ;
5) adil; 6) ijitihad; 7) konsekuen ; 8) sederhana.[3]
Jika
dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal dari Allah, yang dalam
beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik. Didalam surat
al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: segala puji bagi Allah,Tuhan
semesta alam.
Imam
al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al
sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang
artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan
perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah
kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat
keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi
dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang
disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai
tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.[4]
B. Dalil Allah SWT sebagai
pendidik
الرَّحْمَنُ (١
عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢
خَلَقَ الإنْسَانَ (٣
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤
(1) (tuhan) yang Maha
pemurah,
(2) yang telah
mengajarkan Al Quran.
(3) Dia menciptakan
manusia.
(4) mengajarnya pandai
berbicara.
1.
Tafsir
Al- Azhar
(1)
Ar-Rahman,yang
maha pemurah
Arti dari ar-rahman adalah amat luas, kalimat dalam
pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang, cinta, pemurah. Dia
meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang didalam
segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita sering menjumpai
kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan semuanya itu mengandung
akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Bahkan dalam memulai
membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali dengan Bismmillahirahmanirrahim,maka
didalam surat ini dikhususkanlah menyebut Allah dengan sifatNya yang paling
meminta perhatian kita. Kalau Allah pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru
pula sifat Allah. Setelah itu Allah memperincikan rahmatNya itu.
(2) Yangmengajarkan Al-Qur’an
Inilah salah satu dari rahman, atau kasih
sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia itu al-qur’an,
yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada NabiNya Muhammad SAW yang dengan
al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada terang benderang.
Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-Qur’an kepada
manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada manusia. Rahmat ilahi
yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepad
manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi yang diketahui itu
al-qur’an.
(3) Yang menciptakan manusia
Penciptaan manusia pun adalah satu diantara
tanda rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk ilahi
didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Maka terbentanglah
alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka dengan rahmat Allah yang
ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya dapatlah manusia itu
menyesuaikan dirinya dengan alam.
Misalnya hujan turu, air mengalir dan manusia
membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan
perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang satu
dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran.
Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
(4) Yang mengajarkannya
berbicara
Barulah rahman Allah pada manusia lebih
semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan menyatakan perasaan hatinya
dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab disebut al-bayaan
yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa dihati. Sehingga timbulah
bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu diantara
Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta buku
dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa dihati
sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.[5]
2. Tafsir Al- Maraghi
1) Tafsir al-mufradat
Ar-rahman : salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma
ul husna)
Al insan : Umat manusia
Al bayan : kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan
memahamkannya kepada orang lain
Bi husban : dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm : tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan : keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti
halnya orang-orang mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha : Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat
tinggi, tempat dan tingkatanya.
Al-Mizan : keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi : Luruskanlah timbangan kalian dengan
adil
La Tukhsirul mizan : janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam : untuk makhluk
Allah
Al-Akman : jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok
kurma
Al –Ashf : Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan : tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la : Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau
dikasrahkan) dan juga ilyun dan ilwun. Artinya, kenikmatan.[6]
2) Penjelasan
Ayat 1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk
makkah, pada surat ini Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang
merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling
sempurna faidahnya. Yaitu nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena
dengan al-qur’an akan memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah
menyebut nikmat tersebut, maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan
yang merupakan pangkal dari segala urusan.
Ayat 3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
dan mengajarinya apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam
sanubarinya. Oleh karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup
kecuali bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka
sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan
negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa
tertandingi. Dengan nikmat lainya.
Pertama-tama Allah
menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah
diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan
dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit
yang di manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[7]
C. Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam
prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah
peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah
swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi
seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk.
Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam arti
tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah pendidikan
islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti malaikat, jin,
manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam
islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al-
alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar
kepada Allah, mempelajari al-asma kullah
yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada
pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan
dihadapan Allah swt.
Dalam
islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau
komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan
makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara,
dan pendidik semesta alam.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Allah sebagai pendidik utama yang menyampaikan
kepada para Nabi berupa berita gembira untuk disampaikan kepada umat manusia.
Allah mendidik manusia dengan perantara membaca. Pendidikan Allah mencakup
semua kebutuhan Alam semesta ini, allah sebagai pendidik alam semesta dengan
penuh kasih sayang , Allah sebagai pendidik telah mengajarkan kepada Nabi
Muhammad berupa turunnya ayat-ayat yang pada intinya sebagai imtisial yang
disampaikan pada nabi untuk disebarkan kepada umatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-rasyidin,2008. Falsafah Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka
Media Perintis)
Hamka, 2000 .Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka
Panjimas)
Mustafa Al- Maraghi.Ahmad, Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha
Putra)
Nata.Abudin,2016 Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta :
PRENAMEDIA GROUP)
Yasin. A. Fatah,2008. Dimensi-dimensi pendidikan islam
(Malang:Sukses Offset)

[1] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi
pendidikan islam (Malang:Sukses Offset, 2008) hlm,.68-69
[2] A Fatah Yasin, Ibid, hlm.
85-86
[3] Ibid, hlm 89
[4] Abudin Nata, Pendidikan
dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta : PRENAMEDIA GROUP ,2016) hlm 3
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar
Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) hlm 179-182
[6] Ahmad Mustafa Al- Maraghi,
Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha Putra) hlm. 194
[7] Ibid, hlm 195- 197
[8] Al-rasyidin, Falsafah
Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka Media Perintis,2008)hlm, 148-149
Tidak ada komentar:
Posting Komentar