OBYEK PENDIDIKAN “DIRECT”
Keluarga Tumpuan Harapan
QS. At-Tahrim, 66: 6
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, MSI

Disusun oleh:
Kholilatul Fitri (2117273)
Kelas : D
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur
kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
yang berjudul “Obyek Pendidikan “Direct”, Keluarga Tumpuan
Harapan QS. At-Tahrim, 66: 6” dengan baik, kami berharap makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “Obyek
Pendidikan “Direct”, Keluarga Tumpuan Harapan QS. At-Tahrim, 66: 6”.
Makalah ini kami buat berdasarkan referensi yang kami temukan dari berbagai
sumber-sumber yang ada.
Demikian
sedikit pengantar dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya. Terimakasih kami ucapkan kepada
Muhammad Hufron, MSI yang telah memberikan tugas makalah ini, dan kami
beharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami
buat dimasa yang akan datang.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekalongan, 02 November
2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam menghadapi zaman yang semakin kompleks, pendidikan bagi
anak-anak harus sangat diperhatikan, terutama untuk menghadapi perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Pendidikan anak untuk
mengadapi masa depannya sangat menuntut tanggung jawab kita sebagai orang tua
untuk menjaga, merawat serta memberikan dedikasi moral sebagai bekal masa depan
mereka, untuk itu orang tua baik ibu dan bapak yang menjadi tumpuan harapan,
harus menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya dengan memberikan contoh yang
baik (uswatun hasanah) sehingga usaha dalam rangka mendidik anak memberikan
bobot yang berkualitas dan efektif. maka hal yang sangat urgen sebagai langkah
awal orang tua harus selalu berusaha memperbaiki dirinya dengan dibarengi
mencari berbagai macam cara atau metoda pendidikan agar anak benar-berar
terdidik sehingga menjadi anak yang saleh sesuai dengan harapan orang tuanya.
Karena sangat pentingnya peran tersebut dalam mendidik anak di lingkungan
keluarga, maka orang tua harus betul-betul berperan aktif membimbing dan
memperhatikan dengan sebaik-baiknya supaya tercapai kualitas manusia yang
unggul dan berakhlaq
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Hakikat Keluarga?
2. Bagaimana Dalil Dan Penjelasan Keluarga Sebagai Tumpuan Harapan?
3. Apa Yang Dimaksud Keluarga Madrasah Ula?
C. TUJUAN
1. Agar Mengetahui Hakikat
Keluarga.
2. Agar Mengetahui Dalil Dan
Penjelasan Keluarga Sebagai Tumpuan Harapan.
3. Agar Mengetahui Esensi Aliran
Filsafat Idealisme.
4. Agar Mengetahui Keluarga Madrasah Ula .
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Keluarga
Kata “keluarga” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan
dengan beberapa pengertian, di antaranya: (a) Keluarga terdiri dari ibu dan
bapak beserta anak- anaknya, (b) Orang yang seisi rumah yang menjadi tangungan,
(c) Sanak saudara, (d) Satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam
kekerabatan. Ada pula yang mendefinisikan keluarga dengan “persekutuan hidup
bersama berdasarkan perkawinan yang sah dari suami dan istri yang juga selaku
orang tua dari anak-anaknya yang dilahirkan. Terlepas dari beberapa definisi
keluarga yang terdapat dalam berbagai literatur, al-Qur’ān juga mempunyai
term-term (istilah-istilah) tersendiri dalam menyebut atau menerangkan kata
keluarga, salah satunya adalah kata أھل (ahl).
Kata أھل (ahl) mempunyai dua akar kata dengan pengertian yang jauh
berbeda. Akar kata yang pertama adalah ihālah (اهالة) yang secara etimologis berarti “lemak
yang diris dan dipotong-potong menjadi kecil-kecil”. Akar kata ahl yang kedua adalah kata ahl (أھل) itu
sendiri, yang baru bisa dipahami pengertianya setelah dirangkaikan dengan kata
yang lain sehinga membentuk suatu kata majemuk. Kata ahl dengan pengertian
kedua inilah yang banyak disebutkan di dalam al-Qur’ān yang bentuk jamaknya
adalah ahlūn (أھلون).
Menurut al-Asfahāniī ada dua macam ahl dalam al-Qur’ān. Pertama,
ahl yang bersifat sempit atau yang disebut dengan الرجل أھل (ahl ar-Rajul) yaitu keluarga yang
senasab, seketurunan atau yang berhubungan darah, mereka biasa berkumpul dalam
satu tempat tinggal. Ahl dalam pengertian ini seperti yang ditunjukan dalam
surat al- Ahzāb (3): 3: Kata ahl al-bait dalam ayat tersebut ditujukan kepada
keluarga Nabi Muhammad. Ulama tafsir sepakat dengan penafsiran itu, hanya saja
mereka berbeda pendapat siapa yang termasuk keluarga Nabi Saw. Di dalam al-
Qur’ān, kata ahl al-bait diulang sebanyak tiga kali yang merujuk kepada
keluarga Nabi (nabi Muhammad/selainnya). Tidak semua kata ahl dinisbahkan
kepada para Nabi, tetapi ada juga yang dinisbahkan kepada selain Nabi, seperti
yang terdapat pada Surat At-Tahrīm (6): 6.
Adapun jenis ahl yang kedua adalah ahl yang bermakna luas, yaitu
dalam arti keluarga seagama أھل الإسلام)). Ahl dalam pengertian ini seperti yang
terdapat dalam surat Hūd (1): 46: Berkaitan dengan ayat tersebut tersebut,
Quraish Shihab menjelaskan bahwa keturunan khususnya untuk para Nabi dan Rasul
bukan hanya ditentukan oleh hubungan darah dan daging, tetapi oleh hubungan
keteladanan dan amal baik.
Menurut al Fayumi kata ahl juga bisa diartikan kerabat di samping
juga dimaknai sebagai pengikut (al atbā') dan penghuni suatu tempat (ashāb
al-makān). Sementara itu, al-Fairuzabadī
berpendapat bahwa makna kata ahl tergantung konteks idhafah-nya (kata
gabunganya). [1]
B.
Dalil Keluarga Sebagai Tumpuan Harapan
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya : Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Tafsir ayat :
1.
Tafsir
al-Misbah
Dalam suasana
peristiwa yang terjadi di rumah tangga Nabi saw. seperti yang diuraikan oleh
ayat-ayat yang lalu (1-5), ayat di atas memberi tuntunan kepada kaum beriman:
hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu, antara lain dengan
meneladani Nabi, dan pelihara juga keluarga kamu, yakni istri, anak-anak, dan
seluruh yang berada di bawah tanggungjawab kamu, dengan membimbing dan mendidik
mereka agar kamu semua terhindar dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu antara lain yang dijadikan
berhala. Di atasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa
penghuni-penghuninya, adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan
perlakuannya, yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan
yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka
sehingga siksa yang mereka jatuhkan, kendati mereka kasar, tidak kurang dan
juga tidak berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa
dan kesalahan masing-masing penghuni neraka, dan mereka juga senantiasa dan
dari saat ke saat mengerjakan dengan mudah apa yang diperintahkan Allah
kepadanya.
Ayat di atas
menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dari rumah. Walau
secara redaksional ayat di atas tertuju kepada kaum pria (ayah), bukan berarti
hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan laki-laki
(Ibu dan ayah) untuk bertanggungjawab kepada anak-anak dan juga pasangan
masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya.
Malaikat yang disifati dengan (غِلاَظ) gilāzh/kasar bukanlah dalam arti
jasmaninya, karena malaikat adalah makhluk-makhluk halus yang tercipta dari
cahaya. Atas dasar ini, kata tersebut harus dipahami dalam arti kasar
perlakuannya atau ucapannya. Karena mereka telah diciptakan Allah khusus untuk
menangani neraka. “Hati” mereka tidak iba atau tersentuh oleh rintisan, tangis
atau permohonan belas kasih, mereka diciptakan Allah dengan sifat sadis, dan
karena itu maka mereka(شذاد) syidād/keras, yakni makhluk-makhluk Allah yang keras hatinya
dan keras pula perlakuannya. (Shihab, jilid 14, 2002: 177)
2.
Tafsir
Ibnu Katsir
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orangyang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka,” yaitu kamu diperintahkan dirimu dan
keluargamu yang terdiri dari istri, anak, saudara, kerabat, sahaya wanita dan
sahaya laki-laki untuk taat kepada Allah. Dan kamu larang dirimu beserta semua
orang yang berada di bawah tanggungjawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan
kepada Allah. Kamu ajari dan didik mereka serta pimpin mereka dengan perintah
Allah. Kamu perintah mereka untuk melaksanakannya dan kamu bantu mereka dalam
merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka
cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim, yaitu
mengajarkan kepada orang yang berada di bawah tanggungjawabnya segala sesuatu
yang telah diwajibkan dan dilarang oleh Allah Ta‟ala kepada mereka.
Allah SWT berfirman, “Yang bahan bakarnya dari manusia dan batu,”
yaitu yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan jin. Allah SWT berfirman,
“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,” yaitu yang tabiatnya kasar. Allah
telah mencabut dari hati mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir.
“Yang keras,” yaitu susunan tubuh yang sangat keras, tebal, dan penampilannya
yang mengerikan. Wajah-wajah mereka hitam dan taring-taring mereka menakutkan.
Tidak tersimpan dalam hati masing-masing mereka rasa kasih sayang terhadap
orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman, “Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” Yaitu, mereka tidak pernah menangguhkan bila datang perintah
dari Allah walaupun sekejap mata, padahal mereka bisa saja melakukan hal itu
dan mereka tidak mengenal lelah. (Ar-Rifa‟i, jilid 4, 2000: 751)
3.
Tafsir
Departemen Agama RI
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar
menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan
batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah untuk menyelamatkan
mereka dari api neraka. Mereka juga diperintahkan untuk mengajarkan kepada
keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan
mereka dari api neraka. Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara
kesejahteraannya baik jasmani maupun rohani.(Depag RI, jilid 10, 2009: 204).
Ayat diatas mengingingatkan kepada orang tua untuk menyelamatkan
dirinya dan keluarganya khususnya dengan mendidik anak-anaknya untuk beriman
dan bertakwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan
semua larangan-Nya.
Cara menyelamatkan diri dan keluarganya adalah dengan mendirikan
shalat dan bersabar, sebagaimana firman Allah:
öãBù&ur y7n=÷dr& Ío4qn=¢Á9$$Î/ ÷É9sÜô¹$#ur $pkön=tæ ( w y7è=t«ó¡nS $]%øÍ ( ß`øtªU y7è%ãötR 3 èpt6É)»yèø9$#ur 3uqø)G=Ï9 ÇÊÌËÈ
“Dan perintahkanlah
keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.” (Tāhā/20: 132)
Dalam kaitannya dengan kehidupan saat ini, tafsir ayat ini sangat
relevan terlebih kaitannya dalam pendidikan anak. Orang tua diperintahkan
menjaga keluarganya dari siksa api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan
batu. Saat ini banyak sekali anak-anak yang berbuat melampaui batas mereka,
banyak sekali kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh anak. sehingga, orang tua
memiliki kewajiban menberikan ilmu Tauhid atau keimanan dan ketakwaan kepada Allah,
Sebagai upaya untuk menjaganya mereka dari siksa api neraka.[2]
C.
Keluarga Madrasatul Ula
Dalam Qs. At-Tahrim terdapat Nilai-Nilai terhadap proses pendidikan
anak, yakni keluarga adalah institusi pendidikan yang utama dan pertama. Tanggung
jawab seorang ayah, tanggung jawab seorang ibu serta tanggung jawab seorang
anak terhadap kedua orang tua.[3]
Ajaran agama Islam memandang bahwa anak adalah amanat Allah SWT.
Amanat wajib dipertanggungjawabkan, tanggung jawab orang tua terhadap anak
tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab orang tua adalah
penyelenggaraan pendidikan anak-anak dalam rumah tangga. Kewajiban orang tua
ini wajar (natural), karena Allah SWT. menciptakan naluri orang tua untuk
mencintai anaknya. Jadi, tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak hukumnya
wajib. Sebagaimana firman Allah QS. Al-Taẖrîm [66]: 6. Tumbuh kembang anak
menuju kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh potensi anak, melainkan juga
dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan orang tua dalam membesarkan dan mendidik,
serta faktor lingkungan yang lebih luas dimana anak dibesarkan.
Kehidupan keluarga sebagai institusi pendidikan, terdapat adanya
proses saling belajar di antara anggota keluarga. Di samping situasi tersebut,
orang tua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anaknya,
terutama di saat mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan,
bimbingan, pendampingan, dan teladan nyata. Orang tua dituntut untuk
mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak untuk mengenal
kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Di sini orang tua diwajibkan
menjadi tokoh panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim. Orang tua
menjaga anaknya dengan mendidik dan mengajarkan akhlak yang baik. Saat orang
tua melihat tanda-tanda bahwa anaknya telah mampu membedakan antara yang baik
dan yang buruk, orang tua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak. Bila
anak mulai merasa segan dan malu melakukan beberapa hal tertentu, itu semua
karena ia mulai bisa berfikir dengan baik sehingga mengetahui perkara yang
tidak baik. Sikap itu merupakan petunjuk dari Allah yang diberikan kepadanya,
dan menunjukan akhlak serta kejernihan hati. Ini merupakan pertanda yang
menggembirakan karena akalnya menjadi sempurna saat balig.[4]
Keluarga menjadi tumpuan semua anggota keluarga dalam memperoleh
pemenuhan hidup manusia; sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, kasih
sayang dan agama. Berangkat dari keluarga yang sehat dan bahagia maka akan
lahir juga anggota keluarga yang sehat dan bahagia. Dengan demikian, keagamaan
dan kepatuhan pada ajaran agama berawal dari keluarga. Keluarga adalah tempat
kehidupan manusia pertama dalam memperoleh makna kehidupan. Di sinilah
pentingnya efektivitas peran keluarga dalam membentuk keagamaan seseorang.[5]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Keluarga menjadi tumpuan semua anggota keluarga dalam memperoleh
pemenuhan hidup manusia; sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, kasih
sayang dan agama. Keluarga berperan sebagai lembaga pendidikan pertama yang
meletakkan dasar-dasar pengetahuan.
B.
Saran
Dengan mengetahui bahwa keluarga adalah madrasah pertama,
diharapkan sebagai anggota keluarga menjalankan perannya dengan baik dan
menyukseskan pendidikan di lembaga pendidikan paling pertama ini.
DAFTAR PUSTAKA
Asmaya, Enung. 2017. Efektivitas
Peran Keluarga Efektivitas Peran Keluarga dalam Membentuk dalam Membentuk
Tumbuh Kembang umbuh Kembang umbuh Kembang Agama Agama, KOMUNIKA, Vol.
11, No. 1.
Badrut Tamam, Ahmad. 2018. Keluarga Dalam Perspektif
Al Qur’ān: Sebuah Kajian Tematik Tentang
Konsep Keluarga, (Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran
Islam, Volume 2 Nomor 1
Kurniawan, Dadang. 2015.
Pendidikan Orang Tua Pada Anak: Telaah Pada
Al-Qu’an Surat An-Nisā’ Ayat 9 dan
At-Tahrīm Ayat 6, Skripsi.
Suhendah N,
Adah. 2009. Nilai-Nilai Pendidikan Berdasarkan Qs. At-Tahrim Ayat
Ke-6 Tentang Peran Pendidikan Dalam Keluarga. Bandung. Abstraksi.
Tafsir, Ahmad. 2007. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam Bandung
: PT. Remaja Rosda Karya.
[1]Ahmad Badrut
Tamam, Keluarga Dalam Perspektif Al Qur’ān: Sebuah
Kajian Tematik Tentang Konsep Keluarga,
(Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, Volume 2 Nomor 1 Juni 2018),
hlm.2-3.
[2]Dadang
Kurniawan, Pendidikan Orang Tua Pada Anak: Telaah
Pada Al-Qu’an Surat An-Nisā’ Ayat
9 dan At-Tahrīm Ayat 6, Skripsi, 2015, hlm. 68-72.
[4] Ahmad Tafsir,
Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007),
hlm.160.
[5]Enung Asmaya, Efektivitas
Peran Keluarga Efektivitas Peran Keluarga dalam Membentuk dalam Membentuk Tumbuh
Kembang umbuh Kembang umbuh Kembang Agama Agama, KOMUNIKA, Vol. 11, No.
1, Januari - Juni 2017, hlm.3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar