SUBYEK PENDIDIKAN MAJAZI
“NABI SEBAGAI SURI TAULADAN”
Surat Al-Ahzab ayat 21
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata Kuliah :
Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron,M.S.I

Disusun oleh:
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN (IAIN)
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakekat Suri Tauladan
Kita sering terperangkap dalam pola
prinsip yang keliru dalam memaknai hakikat uswatun hasanah yang ada pada diri
rosulullah. Tidak sedikit diantara kita mengkerdilkan makna sifat uswah
(keteladanan). Nabi hanya terbatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah
dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh nabi saja. Padahal syari’at juga menurut
kita untuk meninggalkan atau tidaj mengerjakan segala sesuatu yang tidak
dikerjakan oleh nabi dalam urusan ini.
Inilah makna yang lebih sempurna,
mencakup sunnah fi’liyah dan juga sunnah tarkiyyah.
Sunnah fi’liyah adalah sunnah yang
dikerjakan atau dicontohkan oleh nabi. Dalam hal ini kita pun dusunnahkan
bahkan bisa wajib untuk dikerjakan persis seperti apa yang dikerjakan oleh
beliau sebatas kemampuan kita.
Sunnah tarkiyyah kita dituntut untuk
meninggalkan suatu bentuk ritual dikarenakan ritual tersebut ditinggalkan atau
tidak dikerjakan oleh nabi di masanya, padahal sangat memungkinkan untuk
dikerjakan di masa beliau. Contohnya adalah kumandang adzan adzan saat sholat
Ied adzan sholat Istisqo (minta hujan) dan adzan untuk jenazah. Ini semua di
tinggalkan atau tidak dikerjakan oleh nabi maka bagi kita umatnya meninggalkan
ritual-ritual (adzan yang tidak pada tempatnya) tersebut juga termasuk sunnah
yang sifatnya wajib yan disebut sebagai sunnah tarkiyyah.
Adapun contoh dari suri tauladan yaitu
akhlaqul karimah : rasulullah SAW adalah uswatun khasanah yaitu teladan bagi
setiap manusia yang hidup di dunia. Sebagai umatnya kita disunnahkan untuk
mengambil dan mencontoh keteladanan beliau. Namun, dalam kebanyakan kajian
sering mengartikan dan memaknainya secara sempit. Mereka menganjurkan kita untuk
mengamalkan sunnah-sunnah rasulullah SAW, tanpa menekunkan bahwa rasululloh itu
adalah suri tauladan apabila kita ingin mengambil atau melaksanakan keteladan
beliau maka kita pun mestinya harus menjadi teladan bagi orang lain, sesuai
dengan kemamuan dan kapisitas kita masing-masing.[1]
Adapun sifat-sifat rasulullah SAW
menggambarkan akhlak mulia diwarnai oleh akhlak alquran dan sangatlah patutu
dijadikan sebagai contoh yang baik bagi kita, diantaranya sifatnya adalah :
1.
Sidiq (Benar)
Para rasul allah dan Muhammad SAW
mempunyai sifat sidiq yang membawa kebenaran. Orang yang membawa kebenaran
tentunya ia bersifat sidiq sehingga apa yang
di sampaikan dapat diterima. Oleh karena
itu dengan sifat ini ramai masyarakat jahiliyah menerima islam.
2.
Tabligh (Meyampaikan)
Seorang rasulullah diperintahkan untuk
menyamoaikan semua wahyu di terima dari allah. Walaupun ia harus menghadapi
halangan dan rintangan yang berat, rasulullah SAW harus menyampaikan seluruh
ajaran Allah swt.
3.
Amanah (Dapat dipercaya)
Amanah secara umum berarti bertanggung
jawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah,
menunaikan keadilan memberikan hokum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu
yang disepakatinya.seorang rasul harus dapat dipercaya untuk menyampaikan
seluruh pesan yang diperintahkan oleh allah swt, tanpa ditambahi dan dikurangi
sedikit pun. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar umat manusia memahami dengan
saksama wahyu yang diturunkan melalui rasulnya tersebut. Pada dasarnya modal
utama hubungan antar personal adalah kepercayaan.
4.
Fathanah (cerdas/cerdik)
Seorang rasul haruslah cerdik dan
bijaksana karena dengan kedua hal tersebutlah ia dapat memimpin dan membimbing
umat dengan baik. Fathanah juga bisa diartikan dengan bijaksana semua sikap dan
perbuatannya.
Kecerdasan rasulullah dapat dilihat
bagaimana rasul menyusun dakwah dan strategi-strategi berperang ketempat
lainnya. Diantaranya rasul adalah mempunyai pandangan bahwa islam akan
menaklukan mekkah dan menaklukan khaibar.[2]
B.
Tafsir Q.S Al-Ahzab, 33: 21
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada
Rasulullah suri teladan baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat,
serta yang berzikir kepada Allah dengan banyak.”
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ayat yang mulia ini merupakan prinsip
utama dalam meneladani Rasulullah saw. Baik dalam ucapan, perbuatan, maupun
perilakunya. Ayat ini merupakan perintah Allah kepada manusia agar meneladani
Rasulullah S.a.w. Dalam peristiwa Al-Ahzab, yaitu meneladani kesabaran, upaya,
dan penantiannya atas jalan keluar yang di berikan oleh Allah. Semoga shalawat
dan salam Allah senantiasa dilimpahkan kepadanya hingga hari kiamat. Karena
itu, Allah berfiman kepada orang-orang yang hatinya kalut dan guncang dalam
peristiwa al-Ahzab “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan
yang baik bagimu “maksudnya, mengapa kamu tidak mengikuti dan meneladani
perilaku Rasulullah Saw.? Karena itu Allah berfirman, “yaitu bagi orang-orang
yang mengharap rahmat Allah dan hari Kiamat. Dan dia banyak mengingat Allah.
Kemudian Allah memberitahukan ihwan
hamba-hamba-Nya yang beriman dan membenarkan janji-Nya, “dan tatkala
orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu mereka berkata.
“inilah yang di janjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah
dan Rasul-Nya.” Yakni ujian dan cobaan Allah ini akan membuahkan pertolongan
yang dekat sebagaimana telah di janjikan-Nya. Karena itu Allah berfirman dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya.” [3]
2. Tafsir Al-Azhar
Ummu Salamah (moga-moga ridho Allah
terhadapnya), Istri Rasulullah s.a.w yang telah banyak pengalamannya sebagai
istri Rasulullah s.a.w yang turut menyaksikan beberapa peperangan yang dihadapi
Rasulullah pernah mengatakan tentang hebatnya keadaan kaum muslimin ketika
peperangan khandaq itu. Beliau berkata: "Aku telah menyaksikan di samping
Rasulullah s.a.w beberapa peperangan yang hebat dan ngeri, peperangan di
Almuraisiya, khaibar dan kami pun telah menyaksikan pertemuan dengan musuh di
Hudaibiyah, dan saya pun turut ketika menaklukan Makkah dan peperangan di
Hunain. Tidak ada pada semua peperangan yang saya turut menyaksikan itu yang
lebih membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami-kami jadi takut, melebihi
peperangan Khandaq. Karena kaum Muslimin benar-benar terdesak dan terkepung pada
waktu itu, sedang Bani Quraizhah (Yahudi) tidak lagi dipercaya karena sudah
belot (berkhianat lalu memihak kepada musuh), sampai Madinah dikawal sejak
siang sampai waktu subuh, sampai kami dengar takbir kaum Muslimin untuk melawan
rasa takut mereka. Yang melepaskan kami dari bahaya ialah karena musuh-musuh
itu telah diusir sendiri oleh Allah dari tempatnya mengepung itu dengan rasa
sangat kesal dan sakit hati, karena maksud mereka tidak tercapai.” Demikian
riwayat Ummu Salamah.
Namun di dalam saat-saat yang sangat
mendebarkan hati itu, contoh teladan yang patut ditiru, tidak ada lain,
melainkan Rasulullah sendiri.
Tepat sekali apa yang dikatakan oleh
ayat 21 ini: “sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang
baik.” (pangkal ayat 21). [4]
3. Tafsir Al-Maraghi
Sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan
teladan yang baik itu telah di hadapkan kalian, seandainya kalian
menghendakinya. Yaitu hendaknya kalian mencontoh Rasulullah s.a.w di dalam amal
perbuatannya. Dan hendaknya kalian berjalan sesuai dengan petunjuknya,
seandainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan
adzab-Nya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta
penolong di tiadakan, kecuali hanya amal saleh yang telah dilakukan seseorang,
(pada hari kiamat). Dan adalah kalian orang-orang yang selalu ingat kepada
Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu
seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh
perbuatan-perbuatan Rasulnya.[5]
C.
Pendidik Sebagai Contoh (Suri Teladan)
Pada dasarnya perubahan perilaku yang
dapat ditunjukkan oleh peserta didik harus dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang Pendidik. Atau dengan
perkataan lain Pendidik mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta
didik.
Untuk itulah Pendidik harus menjadi
contoh (suri teladan) bagi peserta didik, karena pada dasarnya Pendidik adalah
representasi dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang
diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat digugu dan ditiru.
Seorang Pendidik sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar yang dapat ditunjukkan oleh peserta didiknya. Untuk itu
apabila seseorang ingin menjadi Pendidik yang profesional maka sudah seharusny
ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui
jalur pendidikan berjenjang ataupun upgrading dan/atau pelatihan yang bersifat
in service training dengan rekan-rekan sejawatnya.
Perubahan dalam cara mengajar guru dapat
dilatihkan melalui kemampuan peningkatan mengajar sehingga kebiasaan lama yang
kurang efektif dapat segera terdeteksi dan perlahan-lahan dihilangkan. Untuk
itu, maka perlu perubahan kebiasaan dalam cara mengajar guru yang diharapkan
akan berpengaruh pada cara bel;ajar siswa, diantaranya sebagi berikut (Dr. H.
Hamzah : 17) :
1.
Memperkecil kebiasaan cara mengajar guru baru (calon guru) yang cepat
merasa puas dalam mengajar apabila banyak menyajikan informasi (ceramah) dan
terlalu mendominasi kegiatan belajar peserta didik.
2.
Guru hendakny berperan sebagai pengarah, pembimbing, pemberi kemudahan
dengan menyediakan berbagai fasilitas belajar, pemberi bantuan bagi peserta
yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang dan
menantang peserta untuk berpikir dan bekerja (melakukan).
3.
Mengubah dari berbagai metode ceramah dengan berbagai variasi metode
yang lebih relevan dengan metode tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan
cara belajar peserta yang baru merasa belajar dan puas kalau banyak
mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau baru belajar kalau
ada guru.
4.
Guru hendaknya mampu menyiapkan berbagai jenis sumber belajar sehingga
peserta didik dapat belajar secara mandiri dan berkelompok,percaya diri,
terbuka untuk saling memberi dan menerima pendapat orang lain, serta membina
kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi.[6]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar