SUBJECT PENDIDIKAN HAKIKI”
( Allah Mengajar Nabi Adam AS )
QS
Al Baqarah : 31
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah :
Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron,M.S.I

Disusun oleh:
Ikhlasul Amal
Kelas : B
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN (IAIN)
BAB II
PEMBAHASAN
A.Nabi Adam AS
Nabi Adam
AS adalah manusia pertama yang
diciptakan oleh Allah SWT dari pada tanah, dibentuk dengan sedemikian rupa
dengan sebaik-baiknya bentuk, kemudian ditiupkan roh kehidupan kedalam-nya.
Sebelumnya, Tuhan telah pula menciptakan setan dari pada api yang sangat panas
dan Malaikat dari Cahaya. Di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali
Adam (berarti
tanah, manusia, atau cokelat muda) atau Nabi Adam assebagai manusia pertama,
bersama dengan istrinya, Hawa. Merekalah orang tua semua manusia di dunia.
1. Penciptaan
Adam
Setelah Allah
SWT. menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk
menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta
memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengabari para malaikat akan
kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut
nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di
muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah:
"Mengapa
engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" (Q.S. Al-Baqarah [2]:30)
Allah kemudian
berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya, yang artinya
"Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah [2]:30)
Lalu
diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah. Setelah disempurnakan
bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan
menjadi manusia yang sempurna. Awalnya Nabi Adam AS. ditempatkan di surga,
tetapi terkena tipu daya iblis kemudian diturunkan ke bumi bersama istrinya
karena mengingkari ketentuan Allah.
Adam diturunkan
dibumi bukan karena mengingkari ketentuan, melainkan dari sejak akan
diciptakan, Allah sudah menunjuk Adam sebagai khalifah di muka bumi. jadi
meskipun tidak melanggar ketentuan (Allah) adam akan tetap diturunkan kebumi
sebagai khalifah pertama.
Adam merupakan
nabi dan juga manusia pertama yang bergelar khalifah Allah yang dimuliakan dan
ditinggikan derajatnya. Ia diutus untuk memperingatkan anak cucunya agar
menyembah Allah. Di antara sekian banyak anak cucunya, ada yang taat dan ada
pula yang membangkang.
2.Kesombongan
iblis (setan)
Saat semua
makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya iblis
(setan) yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa
dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan
karena setan merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari
tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal-usul menjadikannya sombong dan merasa
enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.
Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum setan dengan
mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai
kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak.
Disamping itu, ia telah dijamin sebagai penghuni neraka yang abadi. Setan dengan
sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada-Nya untuk diberi
kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu.
Tanpa mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, setan
justru mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga
bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan
yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman
bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan
sepenuh hati.
3.Pengetahuan
Adam
Allah hendak
menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan
mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi,
maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang ada di alam semesta yang
kemudian diperagakan di hadapan para malaikat. Para malaikat tidak sanggup
menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan
mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka
tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya. Adam lalu
diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para
malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka
bahwa hanya Dialah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui
segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.
4.Adam menghuni
surga
Adam diberi
tempat oleh Allah di surga dan baginya diciptakan Hawa untuk mendampingi,
menjadi teman hidup, menghilangkan rasa kesepian, dan melengkapi fitrahnya
untuk menghasilkan keturunan. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh
Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu beliau masih tidur
sehingga saat beliau terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya. Allah berfirman
kepada Adam:
"Hai Adam,
diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya
yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati
pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S.
Al-Baqarah [2]:35)
5.Tipu daya
setan
Sesuai dengan
ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat
pembangkangannya, setan mulai merancang skenario untuk menyesatkan Adam dan
Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai. Bujuk rayunya dimulai
saat ia menyatakan kepada mereka bahwa ia adalah kawan mereka yang ingin
memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Segala cara
dan kata-kata halus digunakan oleh iblis untuk membuat Adam dan Hawa terbujuk.
Ia membisikkan kepada mereka bahwa larangan Allah kepada mereka untuk memakan
buah dari pohon terlarang adalah karena mereka akan hidup kekal sebagai
malaikat apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam
dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon
terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia
menurunkan mereka ke bumi.
Allah
berfirman:
"Turunlah
kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat
kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
(Q.S. Al-Baqarah [2]:36)
Mendengar
firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh
rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Setelah taubat mereka
diterima, Allah berfirman:
"Turunlah
kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka
barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
5.Lokasi Adam dan
Hawa turun ke bumi
Turunlah mereka
berdua ke bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan
hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka
dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya. Di
dalam kitab ad-Durrul Mantsur, disebutkan "Maka kami katakan, 'Turunlah
kalian ... ", dari Ibnu Abbas, yakni: Adam, Hawa, Iblis, dan ular.
Kemudian mereka turun ke bumi di sebuah daerah yang diberi nama
"Dujjana", yang terletak antara Mekah dan Thaif. Ada juga yang
berpendapat Adam turun di Shafa, sementara Hawa di Marwah. Telah disebutkan
dari Ibnu Abbas juga bahwa Adam turun di tanah India. Diriwayatkan Ibnu Sa'ad dan Ibnu Asakir dari
Ibnu Abbas, dia mengatakan, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Jeddah.
Kemudian Adam pergi mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jam'an (yaitu
Muzdalifah atau al-Masy'ar). Kemudian disusul (izdalafat) oleh Hawa. Oleh
karena itu, tempat tersebut disebut Muzdalifah. Diriwayatkan pula oleh Thabrani
dan Nua'im di dalam kitab al-Hilyah, serta Ibnu Asakir dari Abu Hurairah, dia
bercerita, Rasulullah saw bersabda: "Adam turun di India." Sementara
Ibnu Asakir menyebutkan ketika Adam turun ke bumi, dia turun di India.
Di dalam
riwayat Thabrani dari Abdullah bin Umar disebutkan :
"Ketika
Allah menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India. Kemudian dia
mendatangi Mekah, untuk kemudian pergi menuju Syam (Syria) dan meninggal
disana." (HR. Thabrani)
Dari
riwayat-riwayat secara global disebutkan bahwa Adam turun ke bumi, dia turun di
India (Semenanjung Syrindib, Ceylan) di atas gunung yang bernama Baudza. Di
dalam kitab Rihlahnya, Ibnu Batuthah mengatakan: "Sejak sampai di
semenanjung ini, tujuanku tidak lain, kecuali mengunjungi al-Qadam al-Karimah.
Adam datang ketika mereka tengah berada di semenanjung Ceylan".Syaikh Abu
Abdullah bin Khafif mengatakan: "Dialah orang yang pertama kali membuka
jalan untuk mengunjungi al-Qadam."
6.Lokasi Makam
Adam
Sementara makam
Adam as sendiri ada yang mengatakan terletak di gunung Abu Qubais. Ada juga
yang mengatakan di gunung Baudza, tanah dimana dia pertama kali turun ke bumi.
Dan ada juga yang berpendapat, setelah terjadi angin topan, Nuh as mengulangi
pemakamannya di Baitul Maqdis. Dan kami menarjih apa yang diriwayatkan
Thabrani, Ibnu al-Atsir, dan al-Ya'qubi, bahwa Adam setelah Allah SWT
memberikan ampunan kepadanya, dibawa oleh Malaikat Jibril ke Jabal Arafat.
Disana Jibril mengajarinya manasik haji. Dia meninggal dan dimakamkan di tepi
Jabal Abu Qubais.
7.Kisah Adam
dalam Al-Quran
Seperti telah
disampaikan di atas bahwa nama Adam as dalam Al-Quran disebutkan 25 kali dalam
25 ayat, yaitu :
Surat
Al-Baqarah [2] : ayat 31, 33, 34, 35,
dan 37
Surat Al-Imran
[3] : ayat 33 dan 39
Surat Al-Maidah
[5] : ayat 27
Surat Al-A'raaf
[7] : ayat 11, 19, 26, 27, 31, 35,
dan 127
Surat Al-Israa'
[28] : ayat 50
Surat Maryam
[19] : ayat 58
Surat Thaaha
[20] : ayat 115, 116, 117, 120,
dan 121Surat Yaasin [36] :
ayat 60[1]
B. Dalil Allah SWT Mengajarkan Ilmu Kepada Nabi Adam AS
وَعَلَّمَ آدَمَ
الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء
هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“ Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”( QS Al
Baqarah : 31 )
Ayat ini
menginformasikan bahwa manusia dianugerahi Allah potensi untuk mengetahui nama
atau fungsi dan karakteristik benda-benda
Dalam ayat ini
Allah SWT menunjukkan suatu keistimewaan yang telah dikaruniakannya kepada Nabi
Adam as yang tidak pernah dikaruniakan Nya kepada makhluk-makhluk Nya yang
lain, yaitu ilmu pengetahuan dan kekuatan akal atau daya pikir yang
memungkinkannya untuk mempelajari sesuatu dengan sedalam-dalamnya. Dan
keturunan ini diturunkan pula kepada keturunannya, yaitu umat manusia. Oleh
sebab itu, manusia (ialah Nabi Adam dan keturunannya) lebih patut daripada malaikat
untuk dijadikan khalifah.
1. Tafsir Ibnu Katsir
Hal ini merupakan sebutan yang dikemukakan
oleh Allah Swt di dalamnya terkandung keutamaan Adam atas malaikat berkat apa
yang telah dikhususkan oleh Allah baginya berupa ilmu tentang nama-nama segala
sesuatu, sedangkan para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Adam.
Sesungguhnya
bagian ini didahulukan atas bagian tersebut (yang mengandung perintah Allah
kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam) karena bagian ini mempunyai
ikatan erat dengan ketidaktahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan
khalifah, yaitu disaat mereka menanyakan hal tersebut. Kemudian Allah Swt
memberitahukan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Karena
itulah Allah menyebutkan bagian ini sesudah hal tersebut, untuk menjelaskan
kepada mereka keutamaan Adam, berkat kelebihan yang dimilikinya diatas mereka
berupa ilmu pengetahuan tentang nama-nama segala sesuatu. Untuk itu Allah Swt
berfirman “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”
As-Saddi mengatakan dari orang yang
menceritakannya dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna “wa ‘allama adamal asma
a kullaha”. Bahwa Allah Swt mengajarkan kepada Adam nama-nama semua anaknya
seorang demi seorang, dan nama-nama seluruh hewan.
Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas
mengenai makna firman-Nya ini. Bahwa yang dimaksud ialah nama-nama yang dikenal
manusia, misalnya manusia, hewan, langit, bumi, dataran rendah, laut, kuda,
keledai, dan nama-nama makhluk yang serupa lainnya.
Menurut Mujahid, makna ayat ini ialah Allah
mengajarkan kepada Adam nama semua hewan, semua jenis burung, dan nama segala
sesuatu. Hal yang sama dikatakan pula oleh riwayat dari Sa’id Ibnu Jubair,
Qatadah dan kalangan ulama salaf lainnya. Bahwa Allah mengajarkan kepadanya
nama-nama segala sesuatu. Ar-rabi’ dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa
yang dimaksud ialah nama-nama malaikat. Hamid Asy-Syami mengatakan nama-nama
bintang-bintang. Abdur Rahman Ibnu Zaid mengatakan bahwa Allah mengajarkan kepadanya
nama-nama seluruh keturunannya.
Menurut
pendapat yang shahih, Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu,
yakni semua zat, sifat dan karakternya, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas,
hingga nama angin yang keluar dari dubur, yakni nama-nama semua zat dan
karakternya dalam bentuk mukabbar dan musaggar.[2]
2. Tafsir Al Azhar
Sesudah Adam
dijadikan, kepadanya telah diajarkannya Tuhan nama-nama yang dapat dicapai oleh
kekuatan manusia, baik dengan panca indra atau pun dengan akal semata-mata,
semuanya diajarkan diajarkan kepadanya.kemudian Tuhan panggillah
malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu? Jika
benar pendapat mereka selama ini bahwa jika Khalifah itu terjadi akan timbul
bahaya kerusakan dan pertumpahan dara, sekarang coba jawab pertanyaan Tuhan:
Dapatkah mereka menunjukan nama-nama itu?[3]
C.Ilmu yang
dimiliki manusia
kemampuan
manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi
dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu
melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam
diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat
wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai
kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan
manusia pun tidak punya makna bahkan
mungkin tak akan pernah ada.
Berfikir juga
memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya
pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih
mendalam. Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada
dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa
Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan
kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah)
yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan
pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun
(berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini
dimaksudkan agar manusia dapat berubah
dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat
dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal
melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan,
dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin
bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia
mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu
melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua
itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia
(sudut pandang positif/normatif).
Kemampuan untuk
berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang
terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan
Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk
lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka
bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan
menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Semua itu, pada
dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik
eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian
dari Alam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar