OBJEK PENDIDIKAN
LANGSUNG
“Kerabat Sebagai Objek
Pendidikan”
(QS. Asy-Syu’aara’
214)
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron,M.S.I

Disusun oleh:
Asti Setiyasih 2021115249
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN (IAIN)
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan dan
proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah
dan masyarakat. Ketiga lingkungan ini harus bekerja sama dan saling mendukung
untuk hasil yang maksimal dalam membentuk kepribadian seorang anak yang baik
dan sholeh. Lingkungan pertama yang punya peran adalah lingkungan keluarga,
disinilah anak dilahirkan,di rawat dan dibesarkan. Disinilah proses pendidikan
berawal, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru
agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa demikian? Karena orang tua
(ayah) adalah orang yang pertama kali melafazdkan adzan dan iqomah ditelinga
anak di awal kelahirannya. Orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan
anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek
dan anggota keluarga lainnya. Orang tua adalah orang yang pertama mengajarkan
anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya.
Orang tua, ibu
khususnya karena seorang ibu yang biasanya punya banyak waktu bersama anak
dirumah, bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, jika seorang ibu mampu
mengarahkan, membimbing dan mengembangkan fitrah dan potensi anak secara
maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh
oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.
Masa-masa anak
hanya berinteraksi dengan anggota keluarga, ini adalah saat yang tepat bagi
orang tua untuk membentuk karakter seorang anak. Orang tualah yang mengarahkan
kehidupan anak dengan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dirumah yang
merupakan teladan bagi anak. Disadari atau tidak oleh orang tua, gerak-gerik
dan tingkah laku mereka sehari-hari yang setiap waktu bahkan setiap saat
dilihat, dirasakan dan di dengar oleh anak adalah proses belajar bagi mereka.
Rumusan Masalah
1.
Apa Hakikat kerabat?
2.
Bagaimana dalil tentang kerabat?
3.
Apa yang dimaksud kerabat sebagai pengajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat kerabat
Kerabat
Kerabat memiliki 3 arti. Kerabat adalah sebuah homonim karena arti-artinya
memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Kerabat
memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga kerabat dapat
menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang
dibendakan.
KERABAT
/KE-RA-BAT/
Arti: Kerabat
berarti yang dekat (pertalian keluarga); sedarah sedaging: masih kerabat dengan
engkau
KERABAT
/KE-RA-BAT/
Arti: Kerabat
berarti keluarga; anak saudara: kaum kerabat
KERABAT
/KE-RA-BAT/
Arti:
Kerabat berarti keturunan dari induk yang sama yang dihasilkan dari gamet yang berbeda.
Yang dimaksud dengan kerabat
di sini adalah orang-orang yang memiliki kedekatan pada seseorang dari sisi
kekeluargaan atau nasab keturunan baik dari pihak bapak atau ibu, seperti
misalnya saudara,paman,bibi,sepupu, dan lainnya yang memilki hubungan nasab.
Dalam islam , mereka mendapatkan
kedudukan yang harus dijaga hak-haknya, sebagaimana Allah berfirman, “dan
berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya.”(al-isra:26)
B. Dalil Kerabat sebagai Pengajaran
Ø
Surat
Asy-Syu’ara’ : 214
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ
الْأَقْرَبِينَ. (الشعراء: 214)
Artinya:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat.
(QS. Asy-Syu’ara’: 214 )
Ø
Mufrodat Surat
Asy-Syu’ara’ : 214
وَأَنذِرۡ =
Dan
berilah peringatan
عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ = kerabat-kerabatmu yang
terdekat
Ø
Asbaabun Nuzul
Surah Asy-Syu’ara’ : 214
Ketika ayat ini
turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga
dekat beliau dari keluarga besar ‘Ady dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy.
Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi SAW
bersabda: “bagaimana pendapat kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah
ini ada pasukan berkuda bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai
aku?” mereka berkata: “Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali
kebenaran”. Lalu Nabi bersabda: “Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah
peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih”. Abu
Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi SAW berkata:
“celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan
kami? Maka turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab” (HR.Bukhori, Muslim, ahmad,
dan lain-lain melalui ibn abbas(. Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul
SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga
dalam hal pemberian peringatan.Ini berarti Nabi Muhammad SAW dan keluarga
beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak
memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW, karena semua
adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila
ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena
keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta
akhlak yang mulia.
Ø
Penafsiran Surat
Asy-Syu’ara’ : 214
Dalam ayat ini,
Allah s.w.t. memerintahkan Nabi Muhammad s.a.w. untuk member peringatan kepada
kaum kerabantnya yang terdekat dan agar bergaul dengan orang-orang mukmin
dengan lemah lembut. Imam Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan riwayat
dari Ibnu Abbas r.a.,[1] bahwa ketika Allah menurunkan ayat di atas, Nabi
s.a.w. naik ke bukit Shafa lalu berseru, “Wahai orang-orang, sudah pagi.” Lalu
orang-orang berkumpul kepadanya, ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus
utusannya. Kemudian Rasulullah s.a.w. berpidato, “Wahai Bani Abdul Muththalib,
wahai Bani Fihr, wahai Bani Lu’ay, apa pendapat kalian jika aku memberitahu
kalian bahwa di kaki bukit ini ada seekor kuda yang hendak menyerang kalian,
apakah kalian mempercayai aku?” Mereka menjawab, “Ya, kami mempercayai anda.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan azab yang sangat
keras.” Abu Lahab berkata, “Celakalah kamu untuk selama-lamanya! Apakah hanya
untuk ini kamu memanggil kami?” Maka Allah ta’ala menurunkan surat Al-Lahab, di
antaranya sebagai berikut:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,
dan sesungguhnya dia akan binasa.”(Al-Lahab: 1)
Menurut
Al-Maraghi, pemberian peringatan dalam surat Asy-Syu’ara’: 214 di atas, sifatnya
adalah pemberian peringatan secara khusus, dan ini merupakan bagian dari
peringatan yang bersifat umum, yang untuk itulah Rasulullah s.a.w. diutus.
Sebagaimana firman Allah s.w.t.:[2]
“Dan agar kamu member peringatan
kepada (penduduk) Ummul qura (Makkah) dan orang-orang yang berada di
lingkungannya.” (QS. Al-An’am: 92)
Al-Maraghi juga
menambahkan, bahwa kedekatan nasab atau keturunan tidak memberi manfaat sama
sekali seandainya jalan keimanan yang ditempuh berbeda. Dalam kisah ayat di
atas terdapat dalil pembolehan interaksi antara mukmin dan kafir, serta
memberinya petunjuk dan nasehat.
Ø
Penjelasan Surat
Asy-Syu’ara’ : 214
Sesuai dengan
ayat sebelumnya (QS At Tahrim:6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il
amar (berilah peringatan). Namun perbedaanya adalah tentang objeknya, dimana
dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat. “Aq Alrobin” mereka adalah Bani Hasyim
dan Bani Muthalib, lalu Nabi SAW memberikan peringatan kepada mereka secara
terang-terangan. Demikianlah menurut keterangan Hadits yang telah dikemukakan
oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Namun hal tersebut berarti khusus untuk Nabi
SAW saja kepada Bani Hasyim dan Mutholib, tetapi juga untuk seluruh umat islam,
karena dilihat dari munasabah ayat, selanjutnya terdapat ayat ke 215:” Dan rendahkanlah
dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman
jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat islam”
Ø
Pendapat Ulama
Surat Asy-Syu’ara’ : 214
At Thobari
meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi menyampaikan pesan suci yang
diterimanya kepada seluruh kerabat dan keluarga terdekatnya. Sementara Al
Bukhori meriwayatkan bahwa ketika ayat tersebut turun Nabi langsung menuju dan
naik bukit shofa seraya mengumpulkan sanak kerabat dan sahabatnya.
Ø
Aspek Kandungan
Pendidikan Surat Asy-Syu’ara’ : 214
Alquran Surat
Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti
sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya
seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi. Selain itu
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh
karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama
anak sangatlah dominan.
Ayat As-syuaraa’
ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ
الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat”(Q.S As-syuaraa’ ayat 214).
Di sini jelas,
perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek
pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia.
Selain itu
Adapun dasar operasional pendidikan yang harus kita ketahui terdiri atas, Dasar
historis, Dasar social, Dasar ekonomi, Dasar politik dan administrative, Dasar
psikologis , Dasar filosofis. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan
utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan
kesadaran beragama anak sangatlah dominan, hal ini menunjukkan orangtua
mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak dalam upaya
menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.Maka dari itu keluarga adalah
sebagai objek pendidikan yang utama.
Al-Quran Surat
Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti
sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya
seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi. Selain itu
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh
karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama
anak sangatlah dominan.
Ayat As-syuaraa’
ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ
الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat”
Di sini jelas,
perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek
pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia.
Selain itu Adapun dasar operasional pendidikan yang harus kita ketahui terdiri
atas, Dasar historis, Dasar social, Dasar ekonomi, Dasar politik dan
administrative, Dasar psikologis , Dasar filosofis. Lingkungan keluarga
merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan
keluarga (orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah
dominan, hal ini menunjukkan orangtua mempunyai kewajiban untuk memberikan
pendidikan kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.
Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah
langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah
tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
”Al Aqrobyn”
mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. Memberikan
peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan
hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini
bukan berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib,
tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Jadi perintah ini juga berlaku untuk
seluruh umat Islam.
Dalam QS. Asy
Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam ayat ini
diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada
azab Allah Swt.
C.
Kerabat Sebagai Pengajaran
Prof. Habib
Mufti, dalam sebuah tulisannyadalam the Islamic jurnal, memulai tulisannya yang
berjudul “impact of Modern Civikization on Muslim Family”, dengan kalimat : “semua
itu, islam telah melakukannya atau membayar untuk kepentingan keluarga sebagai
suatu pondasi dan dasar untuk memulai poin-poin yang baik secara makro dan
mikro untuk membentuk kembali tingkatan masyarakat mudah-mudahan junjungan Nabi
Muhammad Saw akan selalu mendapatkan kedamaian, juga bagi kerabat dan
sahabatnya.
Islam memandang
lembaga kelurga bukan sekedar wajah interaksi social semata, tetapi lembaga ini
merupakan pranata yang mengemban fungsi didik, dan hubungan-hubungan interaksi
dlam lingkungan anggota keluarga merupakan peritiwa pendidikan yang besar
pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian dan watak mereka.
Keluarga
merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang dan orang tua
sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga terutama berperan dalam
pengembanghan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan
moral, serta keterampilan sederhana. Pendidikan dalam konteks ini mempunyai
arti pembudayaan, yaitu proses sosialisasi dan enkulturasi secara berkelanjutan
dengan tujuan untuk mengantar anak agar menjadi manusia yang beriman,
bertakwa, berakhlak luhur, tangguh mandiri, kreatif, inovatif, beretos kerja,
setia kawan, peduli akan lingkungan dan lain sebagainya.
Prof. Wardiman
Djojonegoro dalam kapasitasnya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan pernah
mengatakan, bahwa di Negara-negara maju (dimana peranan keluarga mengalami
demassifikasi) akhir-akhir ini ada kecenderungan dalam masyarakat untuk
menjadikan kembali kelurga sebagai basis pendidikan anak. Dibawah semboyan
“back to family” keluarga dihidupkan kembali peranannya yang besar dalam
pembentukan watak dan kepribadian anak serta pengembangan nilai-nilai moral
anak. Dengan demikian, kembali kepada keluarga merupakan solusi yang
praktis namun strategis terhadap berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi
jika diserahkan sepenuhnya kepada institusi diluar keluarga.
Al-Ghozaly dalam
Muhammad Tholhah Hasan menilai dalam peranan keluarga yang terpenting dalam
fungsi didiknya, adalah sebagai jalur pengembangan “naluri beragama secara
mendasar” pada saat anak-anak usia balita, sebagai kesinambungan dari
bawaan fitrah mereka. Pembiasaan ibadah-ibadah ringan, seperti bacaan do’a
sebelum dan sesudah makan, setiap memulai pekerjaan dan permainan, menghormati
anggota keluarga yang lebih tua, dan lain sebagainya, akan merupakan
pembentukan private cultur yang kuat sekali pengaruhnya.
Dalam hal fungsi
atau peranan keluarga sebagai pranata pendidikan, apa yang diamanatkkan oleh
undang-undang RI Nomor: 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, yakni
kelurga berperan sebagai pranata:
1.
Yang
memberikan keyakinan agama
2.
Yang
memberikan nilai-nilai moral dan budaya
Ada sejumlah
hadist Nabi saw. Yang menjelaskan maslah ini, antara lain :
a.
Memberikan nama yang bagus
b.
Memberikan
makanan yang halal
c.
Mengajari
membaca Al-Qur’an
d.
Melatih sopan
santun
e.
Mencintai Nabi
Muhammad saw.
3. Yang
memberikan teladan
4. Yang
memberikan keterampilan dasar
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Tanggung
jawab terhadap pendidikan anak diisyaratkan dengan kewajiban anak untuk
berbakti kepada kedua orang tuannya, sebagai balas jasa atas jerih payah dalam
mendidiknya semenjak masih dalam kandungan.
Pendidikan
disekolah tidak mungkin berhasil secara optimal apabila tidak dimulai dari
pendidikan diri dan keluarga. Pendidikan diri adalah pendidikan terhadap
pribadi-pribadi yang memikul tanggung jawab keluarga. Orang pertama yang
bertanggung jawab terhadap keluarga adalah ayah dan ibu. Dari kedua orang inilah,
pendidikan harus dimulai keberhasilan pendidikan tingkat awal ini akan membawa
pada keberhasilan pendidikan disekolah dan masyarakat.
Pada
akhirnya, tujuan pendidikan akan menjadikan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
bagi manusianya sendiri, selain itu pendidikan akan mendorong manusia untuk
semangat dalam beribadah kepada Allah. Pendidikan juga bertujuan untuk
pengembangan potensi manusia. Dengan demikian, diharapkan pendidikan dalam
keluarga dapat dilaksanakan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mustafa Al-Maragi. 1986. Tafsir Al-Maragi Juz
XXVII. Semarang: PT. Karya toha putra.
Gojali, Nanang. 2013. Tafsir dan hadis tentang
pendidikan. Bandung. CV.Pustaka setia.
Hamka. 1982. Tafsir Azhar Juz XIX. Jakarta: PT.
Pustaka panjimas
Munir, Ahmad. Tafsir Tarbawi Mengungkap Pesan
Al-qur’an tentang Pendidikan. 2008. Yogyakarta: Teras.Nata,
Abuddin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. 2002. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.
Nata, Abuddin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. 2002.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar