Minggu, 09 Desember 2018

TT K Metode Pendidikan Universal III (Metode Persuasif)


METODE PENDIDIKAN “UNIVERSAL”
( METODE PERSUASIF )
QS. ALI-IMRAN AYAT 43
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah                : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu        : Muhammad Hufron,M.S.I
Disusun oleh:
Putri Marinda Amini (2117014)
Kelas : D

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN)
PEKALONGAN
2018


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Permasalahan yang seringkali kita jumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama islam. Kita sebagai pendidik tertuju bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Disamping masalah lainya yang sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik. Metode Persuasif dalam konteks pembelajaran umum dapat mengajak, mendorong atau juga bisa mengarahkan untuk siswa melakukan hal baik, positif / sesuatu yang  membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya suatu hubungan dalam hal interaksi dalam lingkungan sosial maupun lingkungan agamanya.


B.     Rumusan Masalah
Dengan ini maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa Hakikat Metode Persuasif?
2.      Bagaimana Dalil tentang Metode Persuasif?
3.      Apa Isi dari Implementasi Metode Persuasif dalam pendidikan?


C.    Tujuan
Dengan ini maka dapat disimpulkan tujuan dan penjabarannya sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui hakikat metode persuasif
2. Untuk mengetahui dalil dari metode persuasif
3. Untuk mengetahui isi dari implementasi metode persuasif




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Metode Persuasif
Metode merupakan cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan persuasif adalah suatu ajakan yang bersifat membujuk secara halus supaya menjadi yakin.[1] Jadi Metode Persuasif adalah kemampuan ntuk dapat mengajak, mempengaruhi dan meyakinkan seseorang.
Metode persuasif juga sangat penting penting dimiliki oleh seorang pendidik, karena seseorang dengan sifat persuasif akan mampu “menarik” orang-orang disekitarnya untuk setuju dengan hal-hal yang dilakukan dan disampingkannya. Pengertian persuasif adalah sebuah bentuk komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Dalam persuasif, seseorang pendidik dianggap berhasil jika ia mampu mengajak bahkan meyakinkan peserta didiknya menjadi lebih baik.
B.     Dalil tentang Metode Persuasif
QS. Ali Imran Ayat 133 :
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran : 133)
Tafsiran Ayat :
1)      Ibnu Katsier
           Allah ta’ala berfirman, “Dan bergegaslah kamu menuju ampunan dari tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langitdan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Maksudnya,sebagaimana neraka disediakan bagi orang-orang kafir. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maksud firmanAllah ta’ala, “seluas langit dan bumi” merupakan pemberitahuan betapa luasnya surga itu, sebagaimana Allah berfirman ketika menerangkan sifat surga, “bagian dalamnya dari sutra.”Lalu, bagaimana dugaanmu dengan bagian luarnya. Adapula pendapat yang mengatakan bahwa lebarnya surga itu seperti panjangnya, karena ia berbentuk kubah dan berada dibawah ‘arsy. Maka lebar sesuatu yang berbentuk kubah atau bulat adalah sama dengan panjangnya. Hal itu ditunjukan pula oleh keterangan yang terdapat dalam sahihain, “apabila kamu memohon surga kepada Allah maka pintalah surga firdaus, karena ia merupakan surga yang paling tinggi dan paling luas.Dari firdauslah memancar aneka sungai surga. Atap firdaus adalah ‘arsy Ar-Rahman”
            Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, “heraclius menulis surat kepada Nabi SAW.yang isinya, ‘sesungguhnya andamengajaksaya kepada surgayang luasnya seluas langit dan bumi. Lalu, dimanakah neraka?’ maka Nabi SAW bersabda,’Maha suci Allah.Dimanakah malam apabila siang datang?”
           Al Bazar meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “seseorang datang kepada rosulullah SAW. Kemudian bertanya, ‘bagaimana pendapat engkau mengenai firman Allah, ‘surga yang luasnya seluas langit dan bumi,’ lalu dimanakah neraka?’Nabisaw.Bersabda, ‘bagaimana menurutmu apabila malam datang dan merembahi segala perkara, maka dimanakah siang?’ orang itu menjawab, ‘ditempat yang dikehendaki Allah.’ Nabi saw. Bersabda,’ demikian pula dengan neraka.Ia berada pada tempat yang dikehendaki Allah SWT. “yakni, demikianlah bila kita tidak menyaksikan malam tatkala siang datang, maka hal itu tidak memastikan tidak beradanya malam pada suatu tempat, meskipun kita tidak tau dimana malam itu berada. Demikianpula dengan neraka.Ia berada pada tempat yang dikehendaki Allah ta’ala.[2]

2)      Al-Misbah
Ketaatan yang diperintahkan oleh ayat yang lalu, dapat terlaksana tanpa upaya yang sungguh-sungguh, misalnya sekedar melaksanakan yang wajib dan mengabaikan yang sunnah atau anjuran . Atau cukup menghindari yang haram, tetapi melaksanakan yang makruh.Sekadar memohon ampun atas kesalahan dan dosa besar dan tidak mengingat lagi dosa kecil atau hal yang kurang pantas. Ayat ini, menganjurkan peningkatan upaya itu bagaikan satu perlombaan dan kompetisi yang memang merupakan salah satu cara peningkatan kualitas. Karena itu bersegeralah kamu bagaikan ketergesaan seorangyang ingin mendahului yang lain menuju ampunan dari tuhanmu dengan menyadari kesalahan dan berlombalah mencapai, yaitu surga yang sangat agungyang lebarnya, yakni luasnya selebar seluas langit dan bumi yang disediakan untuk al-mutaqqin, yakni orang-orang yang telah mantab ketakwaanya, yang taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-nya.
Yang dimaksud dengan lebar surga disini adalah luasnya, dan luas yang dimaksud adalah perumpamaan.Ia tidak harus dipahami dengan arti harfiyahnya. Dalam benak kita-manusia- tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan keluasan, melebihi luasnya langit dan bumi, maka untuk menggambarkan betapa luasnya surga, Allah memilih kata-kata selebar langit dan bumi. Disisi lain,sedemikian luasnya sehingga ketika mendengar bahwa lebarnya saa sudah demikian, maka bagaimana pula panjangnya.
Perumpamaan yang diberikan oleh Al-Qur’an ini mengundang kaum muslimin agar tidak mempersempit surga dan merasa atau menyarankan bahwa hanya diri atau kelompoknya saja yangakan memasukinya surga sedemikian luas, sehingga siapapun yang berserah dirikepadanya, Insyaallah akan mendapat tempat yang luas disana.[3]

3)      Al-Maraghi
Bersegeralah melakukan amal yang dapat menyampaikan kepada ampunan tuhan atau dosa-dosa kalian, yang dapatmemasukan kalian ke surga yang luasnya disediakan oleh Allah untuk orang yang mau bertaqwa, melaksanakan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya. Untuk itu beramalbaiklah dan bertaubatlah dari perbuatan disa seperti melakukan riba dan sebagainya.dan bersedekhlah kepada orang sengsara yang membutuhkan pertolongan.
Diriwayatkan bahwa heraclius, raa Romawi yang mengirimkan utusan kepada Nabi saw. Dengan membawa sepucuk surat dari beliau yang didalamnya tertera, “engkau melalui surat mengajak kami ke surga yang luasnya bagai langit dan bumi, lalu dimanakah neraka?” maka Rasulullah SAW.bersabda “subhanallah (maha suci Allah) dimanakah malam hari bila siang datang?” (maksud beliau bahwa cakrawala berputar, maka terjadilah siang hari pada salah satu sisi alam, sedang malam hari terjadi pada sisi lainya yang berhadapan. Demikian pula masalah tadi yaitu surga berada disebelah atas dan neraka berada di bawah).
Abu muslim berkata, sesungguhnya yang dimaksud dengan kata Al- Ardu disini adalah harga yang diajukan untuk suatu barang jualan, artinya harga surga tersebut seandainya dijual sama dengan harga langit dan bumi.maksudnya keagungan kadar dan fungsinya yang benar lagi agung, sehingga tidak ada sesuatupun yang menyamainya, betapapun agungnya ia.
اُعِدَّتْ لِلمُتَّقِيْنَ   yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Dalam ayat ini terdapat bukti yang menunjukan bahwa surga itu sekarang telah diciptakan dan tempatnya diluar jagadraya ini. Sebab ayat telah membuktikan bahwa surga lebih besar dibanding  jagad.[4]

4)      Al-Azhar
“Berlomba-lombalah kamu sekalian kepada ampunan Tuhan kamu.” (pangkal ayat 133). Tidak ada pandang kaya, tidak pandang miskin. Tidak pandang kedudukan tinggi ataupun derajat rendah, semuanya insaf akan kekurangan diri. Perintah Tuhan belum terlaksana semuanya, lalu semuanya berlomba memohon ampun, dengan mulut dan dengan perbuatannya, semuanya mencari rezeki yang halal. “Dan surga yang (luasnya) seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(ujung ayat 133).
Berlomba-lomba memohon ampunan Allah, kaya dan miskin. Berlomba pula mengejar surga dengan berbuat amal, tolong-menolonglahr surga dengan berbuat amal, tolong-menolong bantu membantu sesama manusia dan taat menuruti perintah Allah dan Rasul. Maka bahaagialah hidup dgialah hidup di dunia diliputi rahmat dan tersedialah kelak surga luasnya seluas langit dan bumi, untuk orang bertakwa. Karena itu pearangan riba dan penganjuran perlombaan berbuat baik, bederma,bersedekah, berwakaf,dan bernazar adalah mengandung makna yang lebih besar dan jauh, yaitu keselamatan pergaulan hidup di dunia yang didasarkan kepada takwa, bagi keselamatan terus keakhirat.[5]

5)      Al-Lubab
            Menekankan perlunya menaati Allah SWT dan Rasul agar memperoleh rahmat, serta bergegas melakukan aneka kegiatan positif guna memperoleh pengampunan dan surga yang dilukiskan bahwa lebarnya saja sudah sepanjang langit dan bumi, dan itu disiapkan untuk orang-orang bertakwa.[6]

C.    Implementasi Metode Persuasif dalam Pendidikan

1)      Aplikasi dalam Kehidupan
Dalam konteks pendidikan, seorang pendidik  seharusnya selalu menerapkan sebuah metode, salah satu metodenya adalah persuasif dimana pendidik harus bisa mengajak, memengaruhi, dan meyakinkan peserta didiknya agar tercapainya tujuan pendidikan.
 2)    Aspek Tarbawi.
a.  Selalu ingat  terhadap sang pencipta dalam hal apapun.Ingat bahwa semua mahluk akan kembali kepada-Nya.
b.  Senantiasa  bertakwa kepada Allah SWT.
c.  Pendidik dituntut unruk mengarahkan, mengingatkan ke jalan yang baik.
d.  Pendidik Mampu memotivasi diri sendiri sebelum memotivasi orang lain.
e.  Segara bertaubat ketika berbuat dosa.
f.   Akan ada surga bagi orang yang bertakwa.


















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Metode persuasif Persuasi dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap/pendapat atau membujuk agar berbuat sesuatu.Dalam karangan persuasi penulis berusaha membujuk, mengarahkan, menyarankan atau mendorong pembacanya untuk berbuat sesuatu.Jika dalam argumentasi yang menjadi sasaran utama adalah logika, maka yang menjadi sasaran utama persuasi ialah emosi pembaca- meski logika seperti pada argumentasi juga tidak kalah pentingnya.Dalam konteks pendidikan metode persuasif bisa diterapkan dengan mengajak, mengarahkan anak didik menuju kearah baik, menuju kemajuan peradaban pendidikan yang lebih maju lagi.














DAFTAR PUSTAKA

http://kbbi.web.id/persuasif, (Diakses pada tanggal 15 November 2018 pukul 10.00)

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1999. Tafsir Ibnu Katsir . Jakarta. Gema Insani
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir al-Misbah. Jakarta. Lentera Hati
Abubakar, Bahrun dan Hery Noer Aly. 1993. Tafsir al-Maraghi. Semarang. PT.Karya Toha Putra Semarang
Hamka. 1983. Tafsir al-Azhar. Jakarta. Pustaka Panjimas

Shihab. M. Quraish. 2012. Tafsir al-Lubab. Jakarta. Lentera Hati



[1][1] http://kbbi.web.id/persuasif, (Diakses pada tanggal 15 November 2018 pukul 10.00)
[2]  Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir, ( Jakarta: Gema Insani,1999), hlm. 581-582
[3]  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati,2002), hlm. 219-220
[4]  Bahrun Abubakar dan Hery Noer Aly, Tafsir  al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang,1993), hlm.115
[5]  Hamka, Tafsir al-Azhar,  (Jakarta: Pustaka Panjimas,1983), hlm. 113-114
[6]  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Lubab, ( Jakarta: Lentera Hati,2012), hlm. 134

Tidak ada komentar:

Posting Komentar