METODE PENDIDIKAN “UNIVERSAL”
( METODE PERSUASIF )
QS. ALI-IMRAN AYAT 43
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah :
Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron,M.S.I
Disusun oleh:
Putri Marinda Amini (2117014)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN)
PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Permasalahan
yang seringkali kita jumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama islam.
Kita sebagai pendidik tertuju bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa
secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Disamping
masalah lainya yang sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama
terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu
pengajaran secara baik. Metode Persuasif dalam konteks pembelajaran umum dapat
mengajak, mendorong atau juga bisa mengarahkan untuk siswa melakukan hal baik,
positif / sesuatu yang membuat siswa
menjadi sadar akan pentingnya suatu hubungan dalam hal interaksi dalam lingkungan
sosial maupun lingkungan agamanya.
B.
Rumusan Masalah
Dengan
ini maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Apa Hakikat Metode Persuasif?
2.
Bagaimana Dalil tentang Metode Persuasif?
3.
Apa Isi dari Implementasi Metode Persuasif dalam
pendidikan?
C.
Tujuan
Dengan ini maka dapat disimpulkan
tujuan dan penjabarannya sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui hakikat
metode persuasif
2. Untuk mengetahui dalil dari
metode persuasif
3. Untuk mengetahui isi dari
implementasi metode persuasif
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Metode Persuasif
Metode merupakan cara teratur yang digunakan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara
kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai
tujuan yang ditentukan. Sedangkan persuasif adalah suatu ajakan yang bersifat
membujuk secara halus supaya menjadi yakin.[1]
Jadi Metode Persuasif adalah kemampuan ntuk dapat mengajak, mempengaruhi dan
meyakinkan seseorang.
Metode persuasif juga sangat penting penting dimiliki
oleh seorang pendidik, karena seseorang dengan sifat persuasif akan mampu
“menarik” orang-orang disekitarnya untuk setuju dengan hal-hal yang dilakukan
dan disampingkannya. Pengertian persuasif adalah sebuah bentuk komunikasi yang
bertujuan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Dalam persuasif,
seseorang pendidik dianggap berhasil jika ia mampu mengajak bahkan meyakinkan
peserta didiknya menjadi lebih baik.
B.
Dalil tentang Metode Persuasif
QS. Ali Imran Ayat 133 :
وَسَارِعُوا
إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa (QS. Ali Imran : 133)
Tafsiran Ayat :
1)
Ibnu Katsier
Allah ta’ala berfirman, “Dan
bergegaslah kamu menuju ampunan dari tuhanmu dan surga yang luasnya seluas
langitdan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Maksudnya,sebagaimana neraka
disediakan bagi orang-orang kafir. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maksud
firmanAllah ta’ala, “seluas langit dan bumi” merupakan pemberitahuan betapa
luasnya surga itu, sebagaimana Allah berfirman ketika menerangkan sifat surga,
“bagian dalamnya dari sutra.”Lalu, bagaimana dugaanmu dengan bagian luarnya.
Adapula pendapat yang mengatakan bahwa lebarnya surga itu seperti panjangnya,
karena ia berbentuk kubah dan berada dibawah ‘arsy. Maka lebar sesuatu yang
berbentuk kubah atau bulat adalah sama dengan panjangnya. Hal itu ditunjukan
pula oleh keterangan yang terdapat dalam sahihain, “apabila kamu memohon surga
kepada Allah maka pintalah surga firdaus, karena ia merupakan surga yang paling
tinggi dan paling luas.Dari firdauslah memancar aneka sungai surga. Atap
firdaus adalah ‘arsy Ar-Rahman”
Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya,
“heraclius menulis surat kepada Nabi SAW.yang isinya, ‘sesungguhnya
andamengajaksaya kepada surgayang luasnya seluas langit dan bumi. Lalu, dimanakah neraka?’ maka Nabi
SAW bersabda,’Maha suci Allah.Dimanakah malam apabila siang datang?”
Al Bazar meriwayatkan dari Abu
Hurairah, dia berkata, “seseorang datang kepada rosulullah SAW. Kemudian
bertanya, ‘bagaimana pendapat engkau mengenai firman Allah, ‘surga yang luasnya
seluas langit dan bumi,’ lalu dimanakah neraka?’Nabisaw.Bersabda, ‘bagaimana
menurutmu apabila malam datang dan merembahi segala perkara, maka dimanakah
siang?’ orang itu menjawab, ‘ditempat yang dikehendaki Allah.’ Nabi saw.
Bersabda,’ demikian pula dengan neraka.Ia berada pada tempat yang dikehendaki
Allah SWT. “yakni, demikianlah bila kita tidak menyaksikan malam tatkala siang
datang, maka hal itu tidak memastikan tidak beradanya malam pada suatu tempat,
meskipun kita tidak tau dimana malam itu berada. Demikianpula dengan neraka.Ia
berada pada tempat yang dikehendaki Allah ta’ala.[2]
2) Al-Misbah
Ketaatan yang
diperintahkan oleh ayat yang lalu, dapat terlaksana tanpa upaya yang
sungguh-sungguh, misalnya sekedar melaksanakan yang wajib dan mengabaikan yang
sunnah atau anjuran . Atau cukup menghindari yang haram, tetapi melaksanakan yang
makruh.Sekadar memohon ampun atas kesalahan dan dosa besar dan tidak mengingat
lagi dosa kecil atau hal yang kurang pantas. Ayat ini, menganjurkan peningkatan
upaya itu bagaikan satu perlombaan dan kompetisi yang memang merupakan salah
satu cara peningkatan kualitas. Karena itu bersegeralah kamu bagaikan
ketergesaan seorangyang ingin mendahului yang lain menuju ampunan dari tuhanmu
dengan menyadari kesalahan dan berlombalah mencapai, yaitu surga yang sangat
agungyang lebarnya, yakni luasnya selebar seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk al-mutaqqin, yakni orang-orang yang telah mantab ketakwaanya,
yang taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-nya.
Yang dimaksud dengan lebar surga
disini adalah luasnya, dan luas yang dimaksud adalah perumpamaan.Ia tidak harus
dipahami dengan arti harfiyahnya. Dalam benak kita-manusia- tidak ada sesuatu
yang dapat menggambarkan keluasan, melebihi luasnya langit dan bumi, maka untuk
menggambarkan betapa luasnya surga, Allah memilih kata-kata selebar langit dan
bumi. Disisi lain,sedemikian luasnya sehingga ketika mendengar bahwa lebarnya
saa sudah demikian, maka bagaimana pula panjangnya.
Perumpamaan
yang diberikan oleh Al-Qur’an ini mengundang kaum muslimin agar tidak
mempersempit surga dan merasa atau menyarankan bahwa hanya diri atau
kelompoknya saja yangakan memasukinya surga sedemikian luas, sehingga siapapun
yang berserah dirikepadanya, Insyaallah akan mendapat tempat yang luas disana.[3]
3)
Al-Maraghi
Bersegeralah melakukan amal yang dapat menyampaikan kepada ampunan tuhan
atau dosa-dosa kalian, yang dapatmemasukan kalian ke surga yang luasnya
disediakan oleh Allah untuk orang yang mau bertaqwa, melaksanakan perintah-perintahnya
serta menjauhi larangan-larangannya. Untuk itu beramalbaiklah dan bertaubatlah
dari perbuatan disa seperti melakukan riba dan sebagainya.dan bersedekhlah
kepada orang sengsara yang membutuhkan pertolongan.
Diriwayatkan bahwa heraclius, raa Romawi yang mengirimkan utusan kepada
Nabi saw. Dengan membawa sepucuk surat dari beliau yang didalamnya tertera,
“engkau melalui surat mengajak kami ke surga yang luasnya bagai langit dan
bumi, lalu dimanakah neraka?” maka Rasulullah SAW.bersabda “subhanallah (maha
suci Allah) dimanakah malam hari bila siang datang?” (maksud beliau bahwa
cakrawala berputar, maka terjadilah siang hari pada salah satu sisi alam,
sedang malam hari terjadi pada sisi lainya yang berhadapan. Demikian pula
masalah tadi yaitu surga berada disebelah atas dan neraka berada di bawah).
Abu muslim
berkata, sesungguhnya yang dimaksud dengan kata Al- Ardu disini adalah harga
yang diajukan untuk suatu barang jualan, artinya harga surga tersebut
seandainya dijual sama dengan harga langit dan bumi.maksudnya keagungan kadar
dan fungsinya yang benar lagi agung, sehingga tidak ada sesuatupun yang
menyamainya, betapapun agungnya ia.
اُعِدَّتْ لِلمُتَّقِيْنَ yang telah
disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Dalam ayat ini terdapat bukti yang
menunjukan bahwa surga itu sekarang telah diciptakan dan tempatnya diluar
jagadraya ini. Sebab ayat telah membuktikan bahwa surga lebih besar
dibanding jagad.[4]
4)
Al-Azhar
“Berlomba-lombalah kamu sekalian kepada ampunan Tuhan kamu.” (pangkal
ayat 133). Tidak ada pandang kaya, tidak pandang miskin. Tidak pandang
kedudukan tinggi ataupun derajat rendah, semuanya insaf akan kekurangan diri.
Perintah Tuhan belum terlaksana semuanya, lalu semuanya berlomba memohon ampun,
dengan mulut dan dengan perbuatannya, semuanya mencari rezeki yang halal. “Dan
surga yang (luasnya) seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa.”(ujung ayat 133).
Berlomba-lomba memohon ampunan Allah, kaya dan miskin. Berlomba pula
mengejar surga dengan berbuat amal, tolong-menolonglahr surga dengan berbuat
amal, tolong-menolong bantu membantu sesama manusia dan taat menuruti perintah
Allah dan Rasul. Maka bahaagialah hidup dgialah hidup di dunia diliputi rahmat
dan tersedialah kelak surga luasnya seluas langit dan bumi, untuk orang
bertakwa. Karena itu pearangan riba dan penganjuran perlombaan berbuat baik,
bederma,bersedekah, berwakaf,dan bernazar adalah mengandung makna yang lebih
besar dan jauh, yaitu keselamatan pergaulan hidup di dunia yang didasarkan
kepada takwa, bagi keselamatan terus keakhirat.[5]
5)
Al-Lubab
Menekankan perlunya menaati Allah SWT
dan Rasul agar memperoleh rahmat, serta bergegas melakukan aneka kegiatan
positif guna memperoleh pengampunan dan surga yang dilukiskan bahwa lebarnya
saja sudah sepanjang langit dan bumi, dan itu disiapkan untuk orang-orang
bertakwa.[6]
C.
Implementasi Metode Persuasif
dalam Pendidikan
1) Aplikasi dalam
Kehidupan
Dalam konteks pendidikan, seorang pendidik seharusnya selalu menerapkan sebuah metode,
salah satu metodenya adalah persuasif dimana pendidik harus bisa mengajak,
memengaruhi, dan meyakinkan peserta didiknya agar tercapainya tujuan
pendidikan.
2) Aspek
Tarbawi.
a.
Selalu ingat terhadap sang
pencipta dalam hal apapun.Ingat bahwa semua mahluk akan kembali kepada-Nya.
b.
Senantiasa bertakwa kepada Allah
SWT.
c.
Pendidik dituntut unruk mengarahkan, mengingatkan ke jalan yang baik.
d.
Pendidik Mampu memotivasi diri sendiri sebelum memotivasi orang lain.
e.
Segara bertaubat ketika berbuat dosa.
f.
Akan ada surga bagi orang yang bertakwa.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Metode
persuasif Persuasi dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap/pendapat atau membujuk
agar berbuat sesuatu.Dalam karangan persuasi penulis berusaha membujuk,
mengarahkan, menyarankan atau mendorong pembacanya untuk berbuat sesuatu.Jika
dalam argumentasi yang menjadi sasaran utama adalah logika, maka yang menjadi
sasaran utama persuasi ialah emosi pembaca- meski logika seperti pada
argumentasi juga tidak kalah pentingnya.Dalam konteks pendidikan metode
persuasif bisa diterapkan dengan mengajak, mengarahkan anak didik menuju kearah
baik, menuju kemajuan peradaban pendidikan yang lebih maju lagi.
DAFTAR PUSTAKA
http://kbbi.web.id/persuasif, (Diakses pada tanggal 15 November 2018 pukul
10.00)
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1999.
Tafsir Ibnu Katsir . Jakarta. Gema Insani
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir
al-Misbah. Jakarta. Lentera Hati
Abubakar, Bahrun dan Hery Noer Aly.
1993. Tafsir al-Maraghi. Semarang. PT.Karya Toha Putra Semarang
Hamka. 1983. Tafsir al-Azhar. Jakarta. Pustaka
Panjimas
Shihab. M. Quraish. 2012. Tafsir al-Lubab. Jakarta.
Lentera Hati
[4] Bahrun Abubakar dan Hery Noer Aly, Tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha
Putra Semarang,1993), hlm.115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar