Sabtu, 20 Oktober 2018

TT B KARAKTERISTIK ORANG BERILMU II (Sifat Orang Berilmu)


KARAKTERISTIK ORANG BERILMU
(SIFAT ORANG BERILMU)
QS. Faathir, 35 : 28
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.S.I

Disusun oleh :
Yunita Griti Nur Aeni
2117045
Kelas D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2018

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini yang berjudul Karakteristik Orang Berilmu dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
            Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
            Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 


Pekalongan,2 September 2018

Penyusun









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan mengingatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Pada dasarnya, secara tidak langsung Allah SWT telah menunjukkan bahwa Al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan.  
Berilmu adalah sikap perilaku yang didasarkan pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan, dan mau menggunakan akal sehatnya untuk berpikir. Ilmu merupakan pintu gerbang yang menghantarkan seseorang meraih kesuksesan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
B.     Rumusan Masalah
1.      Definisi Sifat (Karakter) Manusia?
2.      Bagaimana Dalil Sifat Orang Berilmu: Takut kepada Allah SWT?
3.      Apa saja Syarat dikatakan Orang Berilmu?
C.    Tujuan
1.      Dapat mengetahui definisi Sifat (Karakter) Manusia.
2.      Dapat mengetahui Dalil Sifat Orang Berilmu: Takut kepada Allah SWT.
3.      Dapat mengetahui Syarat dikatakan Orang Berilmu.









BAB II
PEMBHASAN
A.    Sifat (Karakter) Manusia
Karakter dalam Islam lebih akrab disapa dengan akhlak, kepribadian serta watak seseorang yang dapat dilihat dari sikap, cara bicara dan berbuatnya yang kesemuanya melekat dalam dirinya menjadi sebuah identitas dan karakter sehingga sulit bagi seseorang untuk memanipulasinya.
Untuk lebih mengenal istilah karakter dalam Islam, maka perlu disajikan aspek ontologi akhlak sehingga dapat memberi khazanah pemahaman yang lebih jelas. Mohammad Daud Ali menuturkan bahwa akhlak mengandung makna yang ideal, tergantung pada pelaksanaan dan penerapan melalui tingkah laku yang mungkin positif dan mungkin negatif, mungkin baik dan mungkin buruk, yang termasuk dalam pengertian positif (baik) adalah segala tingkah laku, tabiat, watak, dan perangai yang sifatnya benar, amanah, sabar, pemaaf, pemurah rendah hati dan lain-lain. Sedang yang termasuk ke dalam pengertian akhlak negatif (buruk) adalah semua tingkah laku, tabiat, watal, perangai sombong, dendam, dengki, khianat dan lain-lain yang merupakan sifat buruk.
Karakteristik muslim merupakan ciri, watak maupun kepribadian, perilaku seseorang yang berdasarkan konsep-konsep muslim ideal yang telah dipaparkan dalam Al-Quran. Dengan kata lain, karakteristik muslim ideal adalah karakteristik Qur’ani yang bersumber dari dogma Al-Quran. Dengan karakter Qur’ani tersebut maka seorang muslim diharapkan menjadi pengabdi (abid) yang menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan petunjuk-Nya.[1]
B.     Dalil dan Tafsir Sifat (Karakter) Orang Berilmu
QS. Faathir ayat 28


Artinya : “Dan dari antara manusia dan binatang-binatang melata dan binatang ternak berneka warnanya pula. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun”.
a.      Tafsir Al-Azhar
“Dan dari antara manusia dan binatang-binatang melata dan binatang ternak beraneka warnanya pula.” (Pangkal ayat 28). Di ayat ini disebut tiga kelompok besar makhluk bernyawa pengisi bumi. Pertama ialah manusia dengan berbagai warna dan bangsa dan bahasa. Kita akan melihat berbagai ragam bangsa, berbagai ragam suku, berbagai apa yang dinamai ras. Kita pun akan melihat berbagai warna kulit; ada yang dinamai orang kulit putih, ada yang berkulit hitam, ada yang berkulit merah, ada yang disebut kulit kuning, ada yang sawo matang, dan ada pula yang berwarna kehitaman.
Yang kedua diminta perhatian kita kepada binatang-binatang yang melata di muka bumi ini. Baik yang berjalan dengan barkaki empat, atau yang berkaki enam, atau yang mempunyai berpuluh kaki sebagai lipan, ulat pipisan, ulat sampah yang merah dan lain-lain. Demikian juga bangsa serangga, kumbang-kumbang, lipas, kacoak, jengkerik dan beratus macamnya pula sampai kepada cacing, termasuk juga binatang di rimba yang masih liar dan buas.
Ketiga disebutlah tentang binatang-binatang ternak; sejak dari ontanya , kerbau, sapi, kambing dan domba. Dikatakan di ujungnya bahwa semuanya beraneka warnanya pula.[2]
Demi setelah menyuruh kita melihat dan memperhatikan itu semuanya, yang dapat menimbulkan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersabdalah Tuhan: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu”.  Dengan jelas pada kalimat dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya orang yang bisa merasakan takut kepada Allah, ialah orang-oang yang berilmu.
Di pangkal kata ini Tuhan memakai kata “Innamaa”, yang berarti “lain tidak hanya”. Ahli-ahli ilmu nahwu mengatakan bahwa huruf “Innamaa itu adalah adaatu hashr, yang artinya “alat untuk pembatas”. Sebab itu artinya yang tepat dan jitu ialah: “Lain tidak hanyalah orang-orang yang berilmu jua yang akan merasa takut kepada Allah”. Kalau ilmu tidak ada, tidaklah orang akan merasa takut kepada Allah. Karena timbulnya suatu ilmu ialah setelah diselidiki. Maka jelaslah di pangkal ayat tadi bahwa Allah telah bersabda: “Tidakkah engkau lihat!”. Maka kalau tidak dilihat tidakklah akan tahu. Kalau sudah dilihat dan diketahui, dengan sendirinya akan mengertilah bagaimana Kebesaran Allah, kekuatan-Nya, dan Keagungan-Nya. Terasa kecil diri di hadapan Kekuasaan Maha Besar itu; maka timbullah takut.
Di ujung ayat dijelaskan: “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun”. Maka nampaklah bahwa memang Allah itu Maha Perksa. Sebesar itu alam keliling, hanya patuh menuruti qudrat iradat-Nya. Namun kita manusia kerap kali lupa akan kebesaran illahi itu, sehingga kerap kali terlanggar perintah berbuat dosa.  Namun apabila telah insaf dan mohon ampun, Dia tetap akan mengampuni.[3]
b.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat di atas menyatakan: Dan di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak yakni unta ,sapi dan domba bermacam-macam bentuk, ukuran, jenis dan warnanya seperti itu pula yakni seperti keragaman tumbuhan dan gunung-gunung. Sebagian dari penyebab perbedaan itu dapat ditangkap maknanya oleh ilmuwan dan karena itu sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Firman-Nya: kadzalika dipahami leh banyak ulama dalam arti seperti keragaman itu juga terjadi pada makhluk-makhluk hidup itu. Ada juga ulama yang memahaminya dalam arti “seperti itulah perbedaan-perbedaan yang nampak dalam kenyataan yang dialami makhluk”. Ini kemudian mengantar kepada pernyataan berikutnya yang maknanya adalah “Yang takut kepada Allah dari manusia yang berbeda-beda warnanya itu hanyalah para ulama / cendekiawan”.
Kata ‘ulama’ adalah bentuk jamak dari kata ‘alim’ yang terambil dari akar kata yang berarti mengetahui secara jelas, karena itu semuakata yag terbentuk oleh huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim, selalu menunjuk kepada kejelasan, seperti ‘alam/bendera, ‘alam/alam raya atau makhluk yang memiliki rasa dan atau kecerdasan, ‘alamah/ alamat. Thabathaba’i menulis bahwa mereka itu adalah yang mengenal Allah SWT dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tenang dan keraguan serta kegelisahan menjadi sirna, dan nampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan meraka.
Pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ulama” pada ayat ini adalah “yang berpengetahuan agama” bila ditinjau dari segi penggunaan bhasa Arab tidaklah mutlak demikian. Siapa pun yang memiliki pengetahuan, dan dalam disiplin apapun pengetahuan itu, maka ia dapat dinamai ‘alim. Dari konteks ayat ini pun, kita dapat memperoleh kesan bahwa ilmu yang disandang oleh ulama itu adalah ilmu yang berkaitan dengan phenomena alam.
Dalam buku Secercah Cahaya Ilahi penulis mengemukakan bahwa ada dua catatan kecil namun amat penting yang perlu digarisbawahi dari ayat ini. Pertama adalah penekanannya pada keanekaagaman serta perbedaan-perbedaan yang terhampar di bumi. Kedua, mereka yang memiliki pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial, dinamai oleh Al-Quran ‘ulama. Para ilmuwan sosial dan alam, dituntut gar mewarnai ilm mereka dengan nilai spiritual dan agar dalam penerapannya selalu mengindahkan nilai-nilai tersebut.[4]
C.    Syarat dikatakan Orang Berilmu
a.       Tawadhu’ adalah salah satu tanda atau syarat orang bertakwa, orang yang bertakwa sudah pasti berilmu. Dengan bersifat tawadhu’, orang yang berilmu atau bertakwa akan semakin tinggi martabatnya. Keberadaannya menakjubkan orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara yang beruntung dan orang yang celaka. Dia menganggap orng yang tawadhu’ adalah orang yang hina/rendah.[5]
b.      Memiliki Perilaku Akhlakul Karimah
Orang berilmu tanpa akhlak mulia bisa dikatakan sia-sia. Ilmu agama yang mulia hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang mulia. Sehingga orang yang menuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, jika tidak maka tidak ada faedahnya dalam menuntut ilmu.
c.       Tidak Sombong
Dapat dikatakan orang berilmu yaitu dengan memiliki sifat tidak sombong. Bahwasanya jika memiliki sifat sombong maka sia-sialah ilmunya karena kita tidak mendapat keberkahan dari Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Karakter manusia merupakan ciri, watak, kepribadian maupun sifat batin yang mempengaruhi perilaku, budi pekerti dan pikiran manusia. Adapun dalil mengenai sifat (karakter) orang berilmu yaitu pada QS. Faathir ayat 28. Dari penggalan arti ayat tersebut dikatakan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Dapat dikatakan orang berilmu yaitu dengan memenuhi syarat, pertama tawadhu’ ,kedua memiliki perilaku akhlakul karimah, dan ketiga tidak sombong.























DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish.2002. Tafsir A-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati
Az-Zarnuji, Syaikh. 1995. Ta’lim Muta’allim Tariqatta’allum. Surabaya: Mutiara Ilmu Surabaya
Johansyah. 2011. Pendidikan Karakter dalam Islam, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Volume XI, No. 1
Hamka. Tafsir Al-Azhar.





















LAMPIRAN







BIODATA DIRI
NAMA                                               : YUNITA GRITI NUR AENI
NIM                                                    : 2117045
TEMPAT TANGGAL LAHIR      : PEMALANG, 19 JUNI 1999
ALAMAT                                          : DUSUN KECAPANG RT 03 RW 01 PETARUKAN, KEC. PETARUKAN, KAB.PEMALANG
FAKULTAS / JURUSAN               : FTIK / PAI
STATUS                                            : MAHASISWI IAIN PEKALONGAN
RIWAYAT PENDIDIKAN                        :
-          TK PERTIWI 01 PETARUKAN
-          SD NEGERI 02 PETARUKAN
-          SMP NEGERI 01 PETARUKAN
-          SMA NEGERI 02 PEMALANG



[1] Johansyah, Pendidikan Karakter dalam Islam, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Volume XI, No. 1, Agustus 2011
[2] Hamka, Tafsir Al-Azhar, hlm. 299
[3] Hamka, ibid, hlm. 300-301
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir A-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) hlm.,465-468
[5] Syaikh Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim Tariqatta’allum, (Surabaya: Mutiara Ilmu Surabaya, 1995)  hlm.,16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar