KARAKTERISTIK ORANG BERILMU
(SIFAT ORANG BERILMU)
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.S.I

Disusun oleh :
Yunita Griti Nur Aeni
2117045
Kelas D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini yang
berjudul Karakteristik Orang Berilmu dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa
kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami
semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Pekalongan,2 September 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah
seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan mengingatkan pemahaman
manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu bukan sekedar
pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan
teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan
seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Pada dasarnya,
secara tidak langsung Allah SWT telah menunjukkan bahwa Al-Quran merupakan
sumber ilmu pengetahuan.
Berilmu adalah sikap perilaku yang
didasarkan pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang berilmu adalah
orang yang memiliki ilmu pengetahuan, dan mau menggunakan akal sehatnya untuk
berpikir. Ilmu merupakan pintu gerbang yang menghantarkan seseorang meraih
kesuksesan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Definisi
Sifat (Karakter) Manusia?
2.
Bagaimana
Dalil Sifat Orang Berilmu: Takut kepada Allah SWT?
3.
Apa
saja Syarat dikatakan Orang Berilmu?
C.
Tujuan
1.
Dapat
mengetahui definisi Sifat (Karakter) Manusia.
2.
Dapat
mengetahui Dalil Sifat Orang Berilmu: Takut kepada Allah SWT.
3.
Dapat
mengetahui Syarat dikatakan Orang Berilmu.
BAB II
PEMBHASAN
A.
Sifat (Karakter) Manusia
Karakter
dalam Islam lebih akrab disapa dengan akhlak, kepribadian serta watak seseorang
yang dapat dilihat dari sikap, cara bicara dan berbuatnya yang kesemuanya
melekat dalam dirinya menjadi sebuah identitas dan karakter sehingga sulit bagi
seseorang untuk memanipulasinya.
Untuk
lebih mengenal istilah karakter dalam Islam, maka perlu disajikan aspek
ontologi akhlak sehingga dapat memberi khazanah pemahaman yang lebih jelas.
Mohammad Daud Ali menuturkan bahwa akhlak mengandung makna yang ideal,
tergantung pada pelaksanaan dan penerapan melalui tingkah laku yang mungkin
positif dan mungkin negatif, mungkin baik dan mungkin buruk, yang termasuk
dalam pengertian positif (baik) adalah segala tingkah laku, tabiat, watak, dan
perangai yang sifatnya benar, amanah, sabar, pemaaf, pemurah rendah hati dan
lain-lain. Sedang yang termasuk ke dalam pengertian akhlak negatif (buruk)
adalah semua tingkah laku, tabiat, watal, perangai sombong, dendam, dengki,
khianat dan lain-lain yang merupakan sifat buruk.
Karakteristik
muslim merupakan ciri, watak maupun kepribadian, perilaku seseorang yang
berdasarkan konsep-konsep muslim ideal yang telah dipaparkan dalam Al-Quran.
Dengan kata lain, karakteristik muslim ideal adalah karakteristik Qur’ani yang
bersumber dari dogma Al-Quran. Dengan karakter Qur’ani tersebut maka seorang
muslim diharapkan menjadi pengabdi (abid) yang menjalankan perintah Allah SWT
sesuai dengan petunjuk-Nya.[1]
B.
Dalil dan Tafsir Sifat (Karakter) Orang Berilmu
QS. Faathir ayat 28

Artinya : “Dan dari antara manusia dan
binatang-binatang melata dan binatang ternak berneka warnanya pula.
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang
yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun”.
a.
Tafsir Al-Azhar
“Dan dari antara manusia dan binatang-binatang melata dan binatang ternak
beraneka warnanya pula.” (Pangkal ayat 28). Di ayat ini disebut tiga kelompok besar makhluk
bernyawa pengisi bumi. Pertama ialah manusia dengan berbagai warna dan bangsa
dan bahasa. Kita akan melihat berbagai ragam bangsa, berbagai ragam suku,
berbagai apa yang dinamai ras. Kita pun akan melihat berbagai warna kulit; ada
yang dinamai orang kulit putih, ada yang berkulit hitam, ada yang berkulit
merah, ada yang disebut kulit kuning, ada yang sawo matang, dan ada pula yang
berwarna kehitaman.
Yang kedua diminta perhatian kita kepada binatang-binatang yang melata di
muka bumi ini. Baik yang berjalan dengan barkaki empat, atau yang berkaki enam,
atau yang mempunyai berpuluh kaki sebagai lipan, ulat pipisan, ulat sampah yang
merah dan lain-lain. Demikian juga bangsa serangga, kumbang-kumbang, lipas,
kacoak, jengkerik dan beratus macamnya pula sampai kepada cacing, termasuk juga
binatang di rimba yang masih liar dan buas.
Ketiga disebutlah tentang binatang-binatang ternak; sejak dari ontanya ,
kerbau, sapi, kambing dan domba. Dikatakan di ujungnya bahwa semuanya beraneka
warnanya pula.[2]
Demi setelah menyuruh kita melihat dan memperhatikan itu semuanya, yang
dapat menimbulkan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersabdalah Tuhan: “Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu”. Dengan jelas pada kalimat
dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya orang yang bisa merasakan takut kepada
Allah, ialah orang-oang yang berilmu.
Di pangkal kata ini Tuhan memakai kata “Innamaa”, yang berarti
“lain tidak hanya”. Ahli-ahli ilmu nahwu mengatakan bahwa huruf “Innamaa itu
adalah adaatu hashr, yang artinya “alat untuk pembatas”. Sebab itu artinya yang
tepat dan jitu ialah: “Lain tidak hanyalah orang-orang yang berilmu jua yang
akan merasa takut kepada Allah”. Kalau ilmu tidak ada, tidaklah orang akan
merasa takut kepada Allah. Karena timbulnya suatu ilmu ialah setelah
diselidiki. Maka jelaslah di pangkal ayat tadi bahwa Allah telah bersabda:
“Tidakkah engkau lihat!”. Maka kalau tidak dilihat tidakklah akan tahu. Kalau
sudah dilihat dan diketahui, dengan sendirinya akan mengertilah bagaimana
Kebesaran Allah, kekuatan-Nya, dan Keagungan-Nya. Terasa kecil diri di hadapan
Kekuasaan Maha Besar itu; maka timbullah takut.
Di ujung ayat dijelaskan: “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun”. Maka nampaklah bahwa memang Allah itu Maha Perksa. Sebesar itu
alam keliling, hanya patuh menuruti qudrat iradat-Nya. Namun kita manusia kerap
kali lupa akan kebesaran illahi itu, sehingga kerap kali terlanggar perintah
berbuat dosa. Namun apabila telah insaf
dan mohon ampun, Dia tetap akan mengampuni.[3]
b.
Tafsir Al-Mishbah
Ayat di atas menyatakan: Dan di antara
manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak yakni
unta ,sapi dan domba bermacam-macam bentuk, ukuran, jenis dan warnanya
seperti itu pula yakni seperti keragaman tumbuhan dan gunung-gunung.
Sebagian dari penyebab perbedaan itu dapat ditangkap maknanya oleh ilmuwan dan
karena itu sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Firman-Nya: kadzalika dipahami leh
banyak ulama dalam arti seperti keragaman itu juga terjadi pada makhluk-makhluk
hidup itu. Ada juga ulama yang memahaminya dalam arti “seperti itulah
perbedaan-perbedaan yang nampak dalam kenyataan yang dialami makhluk”. Ini
kemudian mengantar kepada pernyataan berikutnya yang maknanya adalah “Yang
takut kepada Allah dari manusia yang berbeda-beda warnanya itu hanyalah para
ulama / cendekiawan”.
Kata ‘ulama’ adalah bentuk jamak dari kata ‘alim’
yang terambil dari akar kata yang berarti mengetahui secara jelas, karena itu
semuakata yag terbentuk oleh huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim, selalu menunjuk
kepada kejelasan, seperti ‘alam/bendera, ‘alam/alam raya atau makhluk yang
memiliki rasa dan atau kecerdasan, ‘alamah/ alamat. Thabathaba’i menulis bahwa
mereka itu adalah yang mengenal Allah SWT dengan nama-nama, sifat-sifat dan
perbuatan-perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka
menjadi tenang dan keraguan serta kegelisahan menjadi sirna, dan nampak pula
dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan meraka.
Pendapat yang menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “ulama” pada ayat ini adalah “yang berpengetahuan agama” bila
ditinjau dari segi penggunaan bhasa Arab tidaklah mutlak demikian. Siapa pun
yang memiliki pengetahuan, dan dalam disiplin apapun pengetahuan itu, maka ia
dapat dinamai ‘alim. Dari konteks ayat ini pun, kita dapat memperoleh kesan
bahwa ilmu yang disandang oleh ulama itu adalah ilmu yang berkaitan dengan phenomena
alam.
Dalam buku Secercah Cahaya Ilahi
penulis mengemukakan bahwa ada dua catatan kecil namun amat penting yang perlu
digarisbawahi dari ayat ini. Pertama adalah penekanannya pada keanekaagaman
serta perbedaan-perbedaan yang terhampar di bumi. Kedua, mereka yang memiliki
pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial, dinamai oleh Al-Quran ‘ulama.
Para ilmuwan sosial dan alam, dituntut gar mewarnai ilm mereka dengan nilai
spiritual dan agar dalam penerapannya selalu mengindahkan nilai-nilai tersebut.[4]
C.
Syarat dikatakan Orang Berilmu
a. Tawadhu’ adalah salah satu tanda atau
syarat orang bertakwa, orang yang bertakwa sudah pasti berilmu. Dengan bersifat
tawadhu’, orang yang berilmu atau bertakwa akan semakin tinggi martabatnya.
Keberadaannya menakjubkan orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara
yang beruntung dan orang yang celaka. Dia menganggap orng yang tawadhu’ adalah
orang yang hina/rendah.[5]
b. Memiliki Perilaku Akhlakul Karimah
Orang berilmu tanpa akhlak mulia bisa dikatakan
sia-sia. Ilmu agama yang mulia hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang
mulia. Sehingga orang yang menuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan akhlak
yang mulia, jika tidak maka tidak ada faedahnya dalam menuntut ilmu.
c. Tidak Sombong
Dapat dikatakan orang berilmu yaitu dengan memiliki sifat tidak sombong. Bahwasanya
jika memiliki sifat sombong maka sia-sialah ilmunya karena kita tidak mendapat
keberkahan dari Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Karakter
manusia merupakan ciri, watak, kepribadian maupun sifat batin yang mempengaruhi
perilaku, budi pekerti dan pikiran manusia. Adapun dalil mengenai sifat
(karakter) orang berilmu yaitu pada QS. Faathir ayat 28. Dari penggalan arti
ayat tersebut dikatakan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Dapat dikatakan orang
berilmu yaitu dengan memenuhi syarat, pertama tawadhu’ ,kedua memiliki perilaku
akhlakul karimah, dan ketiga tidak sombong.
DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish.2002. Tafsir A-Mishbah. Jakarta: Lentera
Hati
Az-Zarnuji,
Syaikh. 1995. Ta’lim Muta’allim Tariqatta’allum. Surabaya: Mutiara Ilmu
Surabaya
Johansyah.
2011. Pendidikan Karakter dalam Islam, Jurnal Ilmiah Islam Futura,
Volume XI, No. 1
Hamka. Tafsir Al-Azhar.
LAMPIRAN


BIODATA DIRI

NAMA
:
YUNITA GRITI NUR AENI
NIM :
2117045
TEMPAT
TANGGAL LAHIR : PEMALANG, 19 JUNI
1999
ALAMAT :
DUSUN KECAPANG RT 03 RW 01 PETARUKAN, KEC. PETARUKAN, KAB.PEMALANG
FAKULTAS
/ JURUSAN : FTIK / PAI
STATUS :
MAHASISWI IAIN PEKALONGAN
RIWAYAT
PENDIDIKAN :
-
TK
PERTIWI 01 PETARUKAN
-
SD
NEGERI 02 PETARUKAN
-
SMP
NEGERI 01 PETARUKAN
-
SMA
NEGERI 02 PEMALANG
[1] Johansyah, Pendidikan
Karakter dalam Islam, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Volume XI, No. 1, Agustus
2011
[2] Hamka, Tafsir
Al-Azhar, hlm. 299
[3] Hamka, ibid,
hlm. 300-301
[4] M. Quraish
Shihab, Tafsir A-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) hlm.,465-468
[5] Syaikh
Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim Tariqatta’allum, (Surabaya: Mutiara Ilmu
Surabaya, 1995) hlm.,16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar