KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN
“KESAKSIAN ALLAH”
(QS. ALI IMRAN AYAT 18)
Disusun Oleh:
MAHARANI
RAHMAWATI
( 2117008 )
Kelas : C
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “KESAKSIAN ALLAH SWT” ini dengan baik. Shalawat serta
salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung
Muhammad SAW, beserta semua keluarganya dan para
sahabatnya serta para pengikutnya sampai akhir zaman. Penulisan makalah
ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Tafsir
Tarbawi.
Dalam
penyusunan makalah ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak
yang telah membantu dalam meyelesaikan makalah ini, khususnya Bapak Muhammad
Hufron M.S.I, selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah
memberikan tugas dan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
Penyusun telah berusaha menyajikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya. Namun, apabila dalam makalah ini didapati kekurangan dan
kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penyusun dengan senang
hati menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan
berikutnya. Semoga makalah yang sederhana ini dapat
bermanfaat dan menambah khasanah keilmuan mahasiswa. Amiin
yaa robbal ‘alamin.
Pekalongan, Agustus 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..............................................................................................i
Dafar isi .........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
.........................................................................1
B. Rumusan Masalah
..................................................................................1
C. Tujuan .....................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Teori ilmu pengetahuan dan
sains...........................................................2
B. Dalil orang berilmu dalam kesaksian Allah SWT...................................4
C. Kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan....................................5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu
merupakan pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan informasi yang
didapatkan dari segala sesuatu yang diketahui manusia. Itulah bedanya dengan
ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan pengetahuan yang berupa informasi yang
dialami sehingga menguasai pengetahuan tersebut yang menjadi suatu ilmu.
Di
kalangan masyarakat dari dulu sampai sekarang ini, dari siswa sampai mahasiswa
hampir tiap harinya pergi ke sekolah, ke kampus atau ketempat lainnya untuk
menuntut ilmu,dan untuk menambah pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan lebih
penting dibandingkan apapun.
Ilmu
pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang menerangi setiap orang. Dengan ilmu
pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi terang. Sebaliknya tanpa ilmu, orang
akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Oleh krena itu, orang dapat
saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai.
Perkembangan
ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang
pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengatahuan yang lebih khusus lagi
seperti spesialis-spesialis misalnya seperti sains.
Sains
sendiri merupakan ilmu pengetahuan manusia yang membahas tentang alam, yang
sudah di teliti oleh para ahli sains dengan menggunakanlangkah-langkah
observasi, perumusan masalah, menyusun hipotesis, menguji hipotesis melalui
eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep.
Surat
Ali-Imran ayat 18 menjelaskan tentang kesaksian Allah SWT yang
artinya: “Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) melainkan
Dia (yang berhak disembah). Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat
dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Kedudukan
ilmu pengetahuan dalam kehidupan sangat tinggi dibanding dengan yang
lainnya, Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang menerangi setiap
orang. Dengan ilmu pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi terang. Sebaliknya
tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Oleh karena
itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan yang
memadai.
B. Rumusuan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, masalah yang akan dikaji dalam makalah ini adalah:
1. Apa teori ilmu pengetahuan dan sains?
2. Apa dalil orang berilmu dalam kesaksian Allah SWT?
3. Bagaimana kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang teori ilmu pengetahuan dan
sains.
2. Untuk mengetahui dalil orang berilmu dalam kesaksian
Allah SWT.
3. Untuk mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori ilmu pengetahuan dan sains
1. Ilmu Pengetahuan
Kata ilmu
secara bahasa berarti kejelasan. Oleh karena itu, segala bentuk yang berasal
dari akar kata tersebut selalu merujuk pada kejelasan. Kata ilmu dengan
berbagai bentuk dan derivasinya terulang sebanyak 854 kali di dalam al-Qur’an.
Kata tersebut biasanya digunakan untuk menunjukkan proses pencapaian
pengetahuan dan objek pengetahuan sekaligus. Dalam pandangan al-Qur’an ilmu
adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna
menjalankan fungsi kekhalifahannya.[1]
Dalam
kamus bahasa Indonesia ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang suatu
bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat
digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang pengetahuan.[2]
Menurut
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728 H) mengatakan, “Ilmu adalah apa
yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa
oleh Rasulullah. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah namun
dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan
ilmu perdangan.[3]
Ilmu
adalah bagian dari pengetahuan, sehingga setiap ilmu sudah barang tentu adalah
pengetahuan, dan sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Pengetahuan yang
bukan ilmu itu antara lain yaitu seni dan humaniora, tetapi ada juga seni yang
sekaligus juga ilmu, seperti ilmu administrasi dan lainnya.[4]
Sedangkan
pengertian pengetahuan (knowledge) adalah salah satu perlengkapan dasar manusia
di dalam menempuh kehidupan ini. Ternyata kepribadian manusia itu sangat
dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pengetahuan yang diperolehnya.[5]
Pengertian
ilmu pengetahuan sendiri adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam
semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia
sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu.[6]
Ilmu
pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup,
baik di dunia maupun akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan
kepada Adam dan semua keturunannya agar menuntut ilmu pengetahuan. Dengan ilmu
pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik
tugas khilafah maupun tugas ubudiah. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh,
menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.
Berbicara tentang ilmu pengetahuan dalam
hubungannya dengan al-Qur’an, ada persepsi bahwa al-Qur’an itu adalah kitab
ilmu pengetahuan. Persepsi ini muncul atas dasar isyarat-isyarat al-Qur’an yang
berkaitannya dengan ilmu pengetahuan. Dari isyarat tersebut sebagian para ahli
berupaya membuktikannya dan ternyata mendapatkan hasil yang sesuai dengan
isyaratnya, sehingga memperkuat persepsi tersebut.
Dalam hal
ini maka hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan tidaklah hanya sekedar
diukur dengan banyaknya ditemukan ilmu pengetahuan yang berasal dari
penyimpulan ayat, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah terhadap
isyarat ayat. Akan tetapi pembahasan tersebut hendaknya diletakkan pada
proporsi yang lebuh tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an.[8]
Dalam
pandangan al-Qur’an manusia mempunyai potensi untuk meraih ilmu pengetahuan
serta mengembangkannya. Oleh karena itu banyak ayat yang memerintahkan manusia
untuk menempuh berbagai cara untuk terwujudnya haal tersebut.
Al-Qur’an
mengisyaratkan bahwa ilmu terdiri dari dua macam, pertamaadalah
ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia yang dinamai dengan‘ilmu laduni.
Sedangkan yang kedua adalah ilmu yang diperoleh manusia karena
ushanya, ilmu ini dinamai ‘ilmu kasbi.
Terhadap
yang kedua ini al-Qur’an lebih banyak isyaratnya dari pada yang pertama.
Pembagian ini berangkat dari pandangan al-Qur’an bahwa ada hal-hal yang “ada”
tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia itu sendiri, karena dalam
alam wujud ini terdapat “wujud” yang tidak dapat dijangkau oleh indera.[9]
2. Sains
Sains adalah produk manusia seperti
halnya musik, film, lukisan, patung, bangunan, dan banyak lagi lainnya. Begitu
mendengar alunan suara musik, seseorang dapat langsung mengenali apakah ia tipe
musik keroncong, dangdut, pop, jaz, rock, klasik, atau yang lainnya. Demikian
pula jika melihat film, lukisan, patung, atau bangunan, orang juga dapat segera
mengidentifikasi tipe apa objek yang dilihatnya. Bahkan orang dapat mengenali
lebih jauh, misalkan musik pop yang didengarnya kategori menghibur, indah dan
mendidik atau murahan, sekedar bunyi, cengeng dan seronok.[10]
Menurut kurikulum Pendidikan Dasar dalam
Garis-Garis Besar Program Pendidikan (GBPP) dinyatakan:
Sains merupakan hasil kegiatan manusia
yang berupa pengetahuan serta gagasan dan konsep-konsep yang terorganisasi
tentang alam yang ada disekitar, dimana hal ini dapat diperoleh dari pengalaman
melalui dan serangkaian proses kegiatan ilmiah anatara lain penyelidikan,
penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.[11]
Sains, menurut Baiquni adalah himpunan
pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsensus para pakar,
melalui penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil analisis yang kritis
terhadap data pengukuran yang diperoleh dari observasi pada gejala-gajala alam.[12]
Secara umum sains dipahami sebagai ilmu
yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah,
menyusun hipotesis, menguji hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan,
serta penemuan teori dan konsep. Dapat pula dikatakan bahwa hakikat sains
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala melalui proses yang
dikenal dengan proses ilmiah yang dibangun atas dasr sikap ilmiah dan hasilnya
terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting
berupa konsep prinsip dan teori yang berlaku secara universal.
Tujuan pemberian mata pelajaran sains
menurut Sumaji dan pengembangan adalah agar siswa mampu memahami dan mengusai
konsep sains serta keterkaitan dengan kehidupan nyata. Siswa juga mampu
menggunakan strategi pembelajaran ilmiah untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya, sehingga lebih menyadari dan mencintai kebesaran serta kekuasaan
Penciptanya.[13]
B. Dalil Orang Berilmu dalam Kesaksian Allah SWT
لْحَكِيمُا لْعَزِيزُا هُوَ لاَّإِ لَهَ إِ لاَ بِالْقِسْطِ قَآئِمَاً لْعِلْمِا لُواْوَأُوْ الْمَلاَئِكَةُوَ هُوَ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنَّهُ اللّهُ شَهِدَ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak
ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) melainkan Dia (yang berhak
disembah). Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali-Imran:
18).
Tafsir ayat pada surat Ali-Imran: 18 ini adalah persaksian paling mulia
yang bersumber dari Raja Yang Maha agung, dan dari malaikat serta orang-orang
yang berilmu, atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksikan yaitu
pengesaan Allah dan penegakkanNya akan keadilan. Itu semua mengandung
persaksian atas seluruh syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena
syariat dan ajaran itu dasar dan pondasinya adalahtauhidallah dan
pengesaanNya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaanNya dalam sifat-sifat
keagungan, kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan dan kemuliaan, juga
dengan sifat kedermawanan, kebajikan, kasih saying, perbuatan baik, keindahan,
dan dengan kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang
pun dari makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya
atau mereka sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syar’I dan
muamalah serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu
adalah keadilan yang tidak adakezhaliman padanya, tidak ada kesewenangan-wenangan
dalam keadaan apa pun, sebaliknya semua itu berada pada puncak dari hikmah dan
kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih maupun buruk, semua itu
adalah keadilan.[14]
C. Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Kehidupan
Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang
menerangi setiap orang. Dengan ilmu pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi
terang. Sebaliknya tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap
gulita. Oleh krena itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu
pengetahuan yang memadai.[15]
Sehubungan dengan kedudukan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan manusia, Al-Ghazali mengemukakan ucapan Umar bin Al-Khaththab,
“Wafatnya 1000 abid (ahli ibadah) yang beribadah malam dan berpuasa siang,
lebih ringan dari pada meninggalnya satu orang berilmu yang tahu halal dan
haram.” Tahu halal dan haram yang dimaksudkan di sini bukanlah
sekedar tahu tanpa amal, melainkan mengamalkannya, dengan cara mencari yang
halal dan menjauhi yang haram. Sebab pada hakikatnya, orang yang tahu itu
adalah orang yang mengamalkan ilmunya.
Al-Ghazali menulis bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa
Nabi Sulaiman bin Nabi Dawud telah disurh memilih antara ilmu,
harta, dan kerajaan. Ia memilih ilmu. Lalu, ia dianugerahi harta dan kerajaan
bersama dengan ilmu. Dengan ilmu, seseorang dapat memiliki harta yang banyak
dan dapat pula melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sehingga mendapat
kepercayaan untuk menjadi pemimpin. Jadi, ilmulah sebenarnya yang paling
penting.
Sehubungan dengan perbandingan ilmu dengan harta, Ali
bin Abi Thalib berkata, “Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu dapat menjagamu,
sedangkan harta, engkaulah yang menjaganya. Ilmu berkuasa, sedangkan harta
dikuasai. Harta itu berkurang apabila di belanjakan, sedangkan ilmu itu
bertambah apabila disiarkan. Orang berilmu lebih utama dari pada orang yang
hanya berpuasa, shalat, dan berjihad. Apabila seorang berilmu meninggal,
terdapatlah suatu lowongan dalam Islam yang hanya dapat diisi oleh
penggantinya.”
Ungkapan Ali di atas menunjukkan keutamaan dan
kedudukan ilmu dalam kehidupan manusia yang sudah tidak perlu diragukan lagi.
Baik ayat, hadis, maupun fenomena alam telah menjelaskan hal itu. Oleh sebab
itu, seharusnya umat Islam berusaha keras untuk mencari ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya, baik untuk kepentingan pribadi maupun sosial, baik untuk
dunia maupun akhirat.[16]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Seperti
yang diuraikan diatas berdasarkan surat Ali Imran ayat 18 menjelaskan tentang
kesaksian Allah SWT. Yang didalamnya mencakup tentang ilmu pengetahuan,
kata ilmu dengan berbagai bentuk dan derivasinya terulang
sebanyak 854 kali di dalam al-Qur’an. Dalam pandangan al-Qur’an ilmu adalah
suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna
menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Setiap
umat manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan karena dengan ilmu
pengetahuan manusia, jalan hidup ini akan menjadi terang. Sebaliknya tanpa
ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Oleh krena itu,
orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai.
Kedudukan ilmu pengetahuan lebih tinggi dibandingkan
apapun. Sehingga banyak orang-orang yang berbondong-bondong untuk mecari ilmu
pengetahuan, dengan ilmu dapat mengangkat derajat manusia. Di dalam ayat-ayat
al-Qur’an pula banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang sudah dipercayai
kebenaran dan kesuciannya. Sehingga Allah SWT menyuruh agar umat manusia
mempelajari ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Munir,
Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi mengungkap pesan al-Qur’an tentang
pendidikan.
Yogyakarta
: TERAS Perum POLRI Gowok
Devitra, Ivan
Eldes. Ilmu dan Hakekat Ilmu Pengetahuan dalam Nilai Agama, hlm.159-160
bin Abdul
Qadir Jawas, Yazid. 2016.Menuntut Ilmu Jalan Menuju SurgaPanduan
Menuntut Ilmu. Bogor : Pustaka At-Taqwa
Shafiie, Inu
Kencana.2000. Al-Qur’an dan Ilmu Administrasi. Jakarta : PT
Rineka Citra
Abdullah, Abdurrahman
Saleh. 2005. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta
: PT Rineka Citra
Umar, Bukhari.
2014. Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif Hadis.Jakarta
: Amzah
Purwanto,
Agus. 2008. Ayat-Ayat Semesta Sisi-sisi Al-Qur’an yang Terlupakan.
Bandung : PT. Mizan Pustaka
Jamal Fakhri, Sains dan Teknologi dalam Al-Qur’an dan
Implikasikanya dalam Pembelajaran, Ta’dib vol.XV No.01.Edisi, Juni 2010
Muslich,
Mansur. 2007. KTSP(kurikulum Tingkat satuan pendidikan) pemahaman
& pengembangan. Jakarta : bumi aksara
Abdurrahman
bin Nashir as-Sa’ad, Syaikh. 2016. Tafsir Al-Qur’an (1)
Surat: Al-Fatihah-Ali Imran. Jakarta : Darul Haq
Umar,
Bukhari. 2014. Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif
Hadis.Jakarta : Amzah
BIODATA
Nama :
Maharani Rahmawati
Tempat, Tanggal
lahir : Pekalongan, 30 April
1999
Alamat :
Desa Sampih rt:04/rw:02
kec.Wonopringgo
kab. Pekalongan
NIM :
2117008
Prodi :
Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas :
Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK)
Motto
Hidup :
Tak ada hasil yang luar biasa dengan proses yang biasa
Hobby :
Travelling dan Menyanyi
Riwayat
Pendidikan : TK Desa
Sampih
SD
Negeri Sampih
SMP
2 Kedungwuni
SMA
N 1 Bojong
[1] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi mengungkap
pesan al-Qur’an tentang pendidikan (Yogyakarta : TERAS Perum POLRI
Gowok 2008) hlm. 80
[3] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Menuntut
Ilmu Jalan Menuju SurgaPanduan Menuntut Ilmu (Bogor : Pustaka
At-Taqwa, 2016) hlm. 21
[5] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori
Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta : PT Rineka Citra, 2005)
hlm. 89-90
[8] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi Mengungkap
Pesan al-Qur’an tentang pendidikan (Yogyakarta : TERAS Perum POLRI
Gowok 2008) hlm. 67-68
[10] Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta
Sisi-sisi Al-Qur’an yang Terlupakan (Bandung : PT. Mizan Pustaka,
2008) hlm.187-188
[12] Jamal Fakhri, Sains dan Teknologi dalam
Al-Qur’an dan Implikasikanya dalam Pembelajaran, Ta’dib vol.XV No.01.Edisi,
Juni 2010
[13] Mansur muslich, KTSP(kurikulum Tingkat satuan
pendidikan) pemahaman & pengembangan (Jakarta : Bumi
aksara,2007).hal :109
[14] Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’ad,
Tafsir Al-Qur’an (1) Surat: Al-Fatihah-Ali Imran (Jakarta : Darul Haq,
2016) hlm. 417-418

Tidak ada komentar:
Posting Komentar