"Menuntut ilmu adalah Taqwa. Menyampaikan ilmu adalah Ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah Zikir. Mencari ilmu adalah Jihad. Menulis adalah memahat peradaban."
Selasa, 11 Desember 2018
Senin, 10 Desember 2018
Biodata Penulis
Nama : Khomsatun Rosalina
Tempat, Tanggal lahir : Pemalang, 12 Oktober 1999
Alamat : Jl. Pancakarya Rt. 02/010, No. 04 Pedurungan Timur-Taman-Pemalang
Riwayat Pendidikan : - TK Muslimat Pedurungan Timur
- MI Tarbiyatut Ta’alumul Huda
- SMP Negeri 3 Taman
- SMA Negeri 2 Pemalang
- IAIN Pekalongan
video qasidah favorite
video clip group showalat Sabyan - Deen Assalam
Mengenang qasidah lawas tahun 2009 bersama Langitan - Hubbu Ahmadi (Mencintai Nabi Ahmad)
Nostalgia dengan penyanyi nasyid kondang, Sulis - Ya Thoyyibah
Minggu, 09 Desember 2018
Terima Kasihku
Assalamu'alaikum...
Dengan hormat,
kami mengucapkan terimakasih kepada ustad Muhamad Nasim, M. Kom yang telah mengajari APLIKOM kepada kita yang tadinya minim teknologi menjadi tahu, dan beberapa teman saya sudah mengimplementasikannya di rumah maupun di masyarakat.
sehingga bermanfaat bagi kami dalam mengoperasikan komputer dan membedakan beberapa aplikasi yang ada, bimbingan dan kesabarannya kami ucapkan banyak terima kasih serta minta maaf jika ada kesalahan yang tidak disengaja.
wassalamu'alaikum...
Hormat saya,
Khomsatun Rosalina
Dengan hormat,
kami mengucapkan terimakasih kepada ustad Muhamad Nasim, M. Kom yang telah mengajari APLIKOM kepada kita yang tadinya minim teknologi menjadi tahu, dan beberapa teman saya sudah mengimplementasikannya di rumah maupun di masyarakat.
sehingga bermanfaat bagi kami dalam mengoperasikan komputer dan membedakan beberapa aplikasi yang ada, bimbingan dan kesabarannya kami ucapkan banyak terima kasih serta minta maaf jika ada kesalahan yang tidak disengaja.
wassalamu'alaikum...
Hormat saya,
Khomsatun Rosalina
TT G Subject Pendidikan “Hakiki” I (Allah sebagai Pendidik)
SUBYEK
PENDIDIKAN HAKIKI (ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Makalah
Disusun guna Memenuhi Tugas Tafsir Tarbawi
Mata
Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen
Pengampu : Muhammad Ghufron, MSI

Disusun
Oleh:
1. Aminnata Rokhiyah (2117147)
Kelas B
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Al-qur’an tidak hanya
sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu,
melainkan suatu petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat disepanjang masa dan
waktu. Al- qur’an tetap eksis disepanjang zaman dan tempat. Petunjuknya sangat
luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala kehidupan.
Segala keilmuan ada dalam al-qur’an, seperti
ilmu Tafsir, Fiqih, Tauhid semua itu dapat digali secara langsung dalam al
qur’an, tak hanya itu saja ilmu pengetahuan lain pun dapat kita pelajari dalam al-qur’an,
baik ilmu teknologi dan bidang keilmuan lainnya.
Al- qur’an merupakan sumber
dari segala sumber, merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Saw, yang diawali dengan surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An- Nass.
Untuk memberikan pengetahuan bagi seluruh umat manusia. Setiap ayat yang
terkandung dalam al-qur’an memiliki segudang ilmu yang dapat memberikan
kemanfaatan. Tak hanya itu saja, Al-qur’an memiliki banyak sekali keistimewaan,
membaca nya saja mendapatkan berjuta-juta pahala apalagi mempelajari dan
memahaminya, keberkahan akan didapatkan bagi siapa saja yang mempelajari dan
mengamalkan al-qur’an.
Adapun makna pendidikan
merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan berperan
sebagai pembentukan akhlak. Menentukan baik atau buruknya pribadi manusia
secara normatif. Oleh karena itu kita sebagai calon pendidik terutama bidang
pendidikan sepatutnya
A.
Rumusan masalah
1. Apa itu pendidik ?
2. Bagaimana hakikat pendidik ?
3. Sebutkan dalil tentang Allah
sebagai pendidik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pendidik
Pengertian pendidik adalah
orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang
yang melakukan kegiatan dalam bidang mmendidik. Dalam arti luas dapat dikatakan
bahwa pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang memberikan pengaruh
terhadap pembinaan orang lain (peserta didik)agar tumbuh dan berkembang
potensinya menuju kesempurnaan. Wiji Sunarno (2006:37)menjelaslkan bahwa
pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain (peserta
didik) untuk mencapai tingkat kesempurnaan (kemanusiaan) yang lebih tinggi.
Pendidik adalah orang yang
tugasnya sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, pengurus dan pemerbaharu(
pemerbaik) biasa disebut dengan kata Murabby. Apabila istilah pendidikan
diambil dari kata ta’lim maka istilah pendidik disebut juga dengan mu’allim,
namun jika diambil dari kata ta’dib maka istilah pendidik dapat disebut sebagai
mu’addib.[1]
Dalam prespektif islam
pendidik dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Mu’allim, artinya bahwa
seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan yang
luas, dan mampu menjelaskan / mengajarkan/ mentransfer ilmu yang dia memiliki
kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam
kehidupan.
2. Mu’addib, artinya seorang
yang memiliki kedisiplinan kerja yang dilandasi dengan etika, moral, dan sikap
yang santun, serta menanamkannya pada peserta didik melalui contoh untuk ditiru
oleh peserta didik.
3. Mudarris, artinya orang yang
memiliki tingkat kecerdasan inteletual lebih, dan berusaha membantu dan
mmenghilangkan, menghapus kebodohan/ketidaktahuan. Peserta didik dengan cara
mmelatih intelektualnya (intelectual training) melalui proses pembelajaran,
sehingga peserta didik memiliki kecerdasan dan keterampilan.
4. Mursyid, artinya orang yang
memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat penghayatan yang mendalam
terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan berakhlak mulia. [2]
Sifat-sifat pendidik adalah 1) Memmiliki sifat
kasih sayang; 2) lemah lembut; 3) rendah hati ;4) memiliki ilmu pengetahuan ;
5) adil; 6) ijitihad; 7) konsekuen ; 8) sederhana.[3]
Jika
dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal dari Allah, yang dalam
beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik. Didalam surat
al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْØَÙ…ْدُ
Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ
Artinya: segala puji bagi Allah,Tuhan
semesta alam.
Imam
al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al
sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang
artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan
perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah
kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat
keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi
dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang
disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai
tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.[4]
B. Dalil Allah SWT sebagai
pendidik
الرَّØْÙ…َÙ†ُ (Ù¡
عَÙ„َّÙ…َ الْÙ‚ُرْآنَ (Ù¢
Ø®َÙ„َÙ‚َ الإنْسَانَ (Ù£
عَÙ„َّÙ…َÙ‡ُ الْبَÙŠَانَ (Ù¤
(1) (tuhan) yang Maha
pemurah,
(2) yang telah
mengajarkan Al Quran.
(3) Dia menciptakan
manusia.
(4) mengajarnya pandai
berbicara.
1.
Tafsir
Al- Azhar
(1)
Ar-Rahman,yang
maha pemurah
Arti dari ar-rahman adalah amat luas, kalimat dalam
pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang, cinta, pemurah. Dia
meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang didalam
segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita sering menjumpai
kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan semuanya itu mengandung
akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Bahkan dalam memulai
membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali dengan Bismmillahirahmanirrahim,maka
didalam surat ini dikhususkanlah menyebut Allah dengan sifatNya yang paling
meminta perhatian kita. Kalau Allah pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru
pula sifat Allah. Setelah itu Allah memperincikan rahmatNya itu.
(2) Yangmengajarkan Al-Qur’an
Inilah salah satu dari rahman, atau kasih
sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia itu al-qur’an,
yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada NabiNya Muhammad SAW yang dengan
al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada terang benderang.
Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-Qur’an kepada
manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada manusia. Rahmat ilahi
yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepad
manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi yang diketahui itu
al-qur’an.
(3) Yang menciptakan manusia
Penciptaan manusia pun adalah satu diantara
tanda rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk ilahi
didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Maka terbentanglah
alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka dengan rahmat Allah yang
ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya dapatlah manusia itu
menyesuaikan dirinya dengan alam.
Misalnya hujan turu, air mengalir dan manusia
membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan
perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang satu
dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran.
Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
(4) Yang mengajarkannya
berbicara
Barulah rahman Allah pada manusia lebih
semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan menyatakan perasaan hatinya
dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab disebut al-bayaan
yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa dihati. Sehingga timbulah
bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu diantara
Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta buku
dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa dihati
sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.[5]
2. Tafsir Al- Maraghi
1) Tafsir al-mufradat
Ar-rahman : salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma
ul husna)
Al insan : Umat manusia
Al bayan : kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan
memahamkannya kepada orang lain
Bi husban : dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm : tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan : keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti
halnya orang-orang mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha : Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat
tinggi, tempat dan tingkatanya.
Al-Mizan : keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi : Luruskanlah timbangan kalian dengan
adil
La Tukhsirul mizan : janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam : untuk makhluk
Allah
Al-Akman : jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok
kurma
Al –Ashf : Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan : tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la : Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau
dikasrahkan) dan juga ilyun dan ilwun. Artinya, kenikmatan.[6]
2) Penjelasan
Ayat 1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk
makkah, pada surat ini Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang
merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling
sempurna faidahnya. Yaitu nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena
dengan al-qur’an akan memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah
menyebut nikmat tersebut, maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan
yang merupakan pangkal dari segala urusan.
Ayat 3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
dan mengajarinya apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam
sanubarinya. Oleh karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup
kecuali bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka
sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan
negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa
tertandingi. Dengan nikmat lainya.
Pertama-tama Allah
menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah
diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan
dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit
yang di manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[7]
C. Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam
prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah
peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah
swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi
seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk.
Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam arti
tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah pendidikan
islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti malaikat, jin,
manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam
islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al-
alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar
kepada Allah, mempelajari al-asma kullah
yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada
pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan
dihadapan Allah swt.
Dalam
islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau
komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan
makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara,
dan pendidik semesta alam.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Allah sebagai pendidik utama yang menyampaikan
kepada para Nabi berupa berita gembira untuk disampaikan kepada umat manusia.
Allah mendidik manusia dengan perantara membaca. Pendidikan Allah mencakup
semua kebutuhan Alam semesta ini, allah sebagai pendidik alam semesta dengan
penuh kasih sayang , Allah sebagai pendidik telah mengajarkan kepada Nabi
Muhammad berupa turunnya ayat-ayat yang pada intinya sebagai imtisial yang
disampaikan pada nabi untuk disebarkan kepada umatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-rasyidin,2008. Falsafah Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka
Media Perintis)
Hamka, 2000 .Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka
Panjimas)
Mustafa Al- Maraghi.Ahmad, Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha
Putra)
Nata.Abudin,2016 Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta :
PRENAMEDIA GROUP)
Yasin. A. Fatah,2008. Dimensi-dimensi pendidikan islam
(Malang:Sukses Offset)

[1] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi
pendidikan islam (Malang:Sukses Offset, 2008) hlm,.68-69
[2] A Fatah Yasin, Ibid, hlm.
85-86
[3] Ibid, hlm 89
[4] Abudin Nata, Pendidikan
dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta : PRENAMEDIA GROUP ,2016) hlm 3
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar
Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) hlm 179-182
[6] Ahmad Mustafa Al- Maraghi,
Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha Putra) hlm. 194
[7] Ibid, hlm 195- 197
[8] Al-rasyidin, Falsafah
Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka Media Perintis,2008)hlm, 148-149
TT G Subject Pendidikan “Hakiki” II (Karakter Allah sebagai Pendidik)
MAKALAH
SUBYEK
PENDIDIKAN “HAKIKI”
DAAM QS AL FATIHAH 1: 1-4
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI
PENDIDIK)
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen
pengampu : Muhammad Hufron M.S.I

Disusun oleh :
1. Rokhana Hayati (2117177)
Kelas : B
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur kita haturkan kepada Allah
SWT karena limpahan rohmat serta anugerah darinya sehingga saya mampu untuk
merampungkan makalah dengan judul “SUBYEK
PENDIDIKAN “HAKIKI” DAAM QS AL FATIHAH 1: 1-4
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)” ini. Sholawat dan salam selalu kita ucapkan
dan curahkan untuk junjungan nabi agung kita, Nabi Muhammad SAW yang sudah menyampaikan
petunjuk Allah SWT untuk kita semua, sebuah petunjuk paling benar yakni syariah
agama islam yang sempurna dan satu satunya karunia paling besar kepada seluruh
alam semesta.
Penulis benar-benar berterima kasih sebab
mampu menyelesaikan makalah yang termasuk dari tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Selain itu, kami menyampaikan terima kasih yang banyak terhadap seluruh pihak
yang sudah membantu saya selama berlangsungnya penyelesaian makalah sampai bisa
terselesaikan makalah ini.
Begitulah yang bisa saya haturkan, saya
berharap supaya makalah ini bisa berguna kepada setiap pembaca. Kami menyadari
dengan sangat, bahwa makalah yang kami tulis ini masih banyak kekurangannya.
Senin, 18 Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR........................................................................................................ 2
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 3
BAB
I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG................................................................................................... 4
B.
RUMUSAN MASALAH............................................................................................... 4
C.
TUJUAN MASALAH................................................................................................... 4
BAB
II PEMBAHASAN
A.
KARAKTER PENDIDIK............................................................................................. 5
B.
DALIL KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK.............................................. 8
C.
AL ‘ASMA ‘AL HUSNA............................................................................................ 12
BAB
III PENUTUP
KESIMUPULAN.............................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mendidik adalah
suatu tugas dan kewajiban para orang tua
dalam lingkungan keluarga, pendidikan dilingkungan sekolah, maupun dalam
lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan manapun dan situasai apapun, seorang
pendidik dituntut untuk membuat peserta didik mampu menyerap dan memahami
pengajaran yang disampaikan. Selain itu, pendidik juga harus memiiliki karakter
sebagai pendidik untuk menjadi modal utama untuk tercapainya tujuan tersebut,
karena tanpa memiliki karakter pendidikan tidak akan mencapai tujuan yang
diharapkan.
Karakter
pendidik juga dimiliki oleh Allah SWT. Karakter Allah sebagai pendidik telah di
jelaskan dalam salah satu surat dalam Al-Qur’an dan juga asma-asma Allah dalam
Al ‘Asma Al Husna. Untuk mengetahui apa saja karakter seorang pendidik, dan
karakter Allah sebagai pendidik akan dijelaskan dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakter pendidik?
2. Apa saja dalil karakter Allah sebagai
Pendidik?
3. Jelaskan apa itu Al ‘asma al husma?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk mengetahui krakter pendidik
2. Untuk mengetahui dalil karakter Allah sebagai
pendidik
3. Untuk mengetahui apa itu Al ‘Asma Al Husma
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakter
pendidik
Dalam segi bahasa pendidik adalah orang yang
mendidik, dari segi pengertian ini timbul kesan bahwa pendidik ialah orang yang
melakukan melakukan kegiatan dalam hal mendidik. Dalam bahasa inggris ditemui beberapa
kata yang mendekatai maknanya dengan pendidik. Kata –kata tersebut seperti
teacher yang berarti guru atau pengajar, dan tutor yang berarti guru pribadi
atau guru yang dirumah. Dalam bahasa Arab dijumpai kata Ustadz, Mudarrist,
Mu’allim dan Muad’dib. Kata ustadz jama’nya Asaatidz yang berarti teacher
atau guru, proffesor (gelar akademik atau jenjang bidang intelektual),
penulis, dan penyair. Sementara kaa mudarris berarti teacher (guru), instrucrur
(pelatih), dan lecturer (dosen). Selanjutnya kata Muallim yang berarti teacher
(guru) trainer ( pemandu). Kemudian kata Muad’dib berarti Educator(pendidik)
atau teacher in Quranic School (guru dalaam lembaga pendidikan alquran).[1]
Allah SWT sebagai pendidik utama untuk
menginginkan umat manusia menjadi baik dan hidup dengan bahagia baik di dunia
maupun diakhirat. Oleh karena itu mahluknya harus memiliki bekal berupa etika
dan pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebu, Allah AWT mengutus para
Nabi-Nya sebagai perantara hidayah untuk patuh dan tunduk kepada-Nya dan
menyampaikan ajaran kepada semua makhluk manusia.
Firman Allah

Sesungguhnya Allah tellah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang
rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(WS Ali Imran [3];164).
Dari berbagai ayat al-Quran yang menerangkan
tentang kedudukan Allah SWT sebagai
pendidik dapat dipahami bahwasannya Allah SWT memiliki pengetahuan yang sangat
luas dan ini merupakan isyarat bagi makhluknya bahwasanya seorang pendidik
haruslah sebagai peneliti yang memiliki penemuan0penemuan baru. Sifat yang
dimiliki Allah SWT yang lainnya adalah maha pemurah yang artinya Allah SWT
tidak kikir tentang ilmu-Nya.
Didalam
Buku mencetak Generasi Rabbani disebutkan sepuluh karakter yang harus dimiliki
oleh pendidik dalam pendidikan adalah :
1. Ikhlas
Rawatlah dan didiklah dengan penuh ketulusan dan niat
ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Cangkangkan niat
semata-mata untuk Allah Ta’ala dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa
perinta, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman
2. Bertakwa
Hiasi diri anda dengan ketakwaan, sebab, pendidik adalah
contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak
berdasarkan iman dan islam.
3. Berrilmu
Sebuah keharusan bahwa kedua orang tua harus mempunyai
perbekalan ilmu yang memadai. Orang tua harus konsep-konsep dasar pendidikan
dalam islam. Mengetahui halal dan haram, prinsip-prinsip etika islam serta
memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at islam.
4. Bertanggung jawab
Memiliki rasa tsnggung jawab yang besaar dalam pendidik.
5. Sabar dan Tabah
Dua difat ini mutlak dibutuhlkan oleh setiap pendidik.
Debab dalam prses pendidikan tentu sangat banyak tantangan dan ujian.
6. Lemah lembut dan tidak kasar
Sifat lemah lembut ini akan membuat seseorang (peserta
didik) menjadi nyaman dan lebih udah menerima pengajaran.
7. Penyayang
Perasaan sayang ini yang akan menjadi penghangat suasana
dan menjadi proses pengajaran menjadi nyaman dan menyenangkan.
8. Lunak dan Fleksibel
Lunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak
tegas. Namun harus dipahami secara luas dan enyeluruh. Maksudnya disini lebih
mengarah pada sikap mempermudah urusan dan tidak pempersulitnya.
9. Tidak mudah marah
Sifat mudah marah merupakan bagian dari sifat negative
dalam pendidikan. Jika seorang pendidik mampu mengendalikan diri dan menahan
amarahnya, maka hal itu akan membawakeberuntungan bagi dirinya dan peserta
didiknya
10. Dekat namun berwibawa
Pendidik yang sukses adalah pendidik yang benar-benar
dekat dihati peserta didik. Mereka selalu merindukannya mereka erasa gembira
dan bahagia bersamanya. Ya, pendidik yang mengasihi dan dikasihi. Peserta didik
buksn tskut padanya, namun mereka sayang, hormat dan segan melanggar perintah
dan kata-katanya. [2]
B. Dalil Karakter
Allah Sebagai Pendidik
QS. Al-Fatihah 1: 1-4

Artinya:
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang
2. Segala pujia bagi Allah, Tuhan semesta alam
3. Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang
4. Yang menguasai hari pembalasan[3]
Tafsir Ayat

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang
Kalimat basmalah tersebut bermakna: “ Aku memulai bacaanku ini seraya
memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Idiom “nama Allah” berarti
mencakup semua nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon
pertolongan kepada Tuhannya. Dalam pemohonannya itu, ia bisa menggunakan salah
satu nama Allah yang sesuai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling
agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi
adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui
kalam-Nya.[4]
Allah
adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa
takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah
memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya
hanya beriadahdan menyembah kepada-Nya. [5]

Segala pujia bagi Allah, Tuhan semesta alam
Ayat
ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan
dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; serta
baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Didalam ayat itu pula, terkandung
perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah
satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk
di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang
memelihara semua makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala segala
persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai
kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih , Dia
berikan kenikmatan berupa iman dan amal saleh.

Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu
arrahman. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong
timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan
sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan
bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak
mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih
sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.
Banyak
para ulama membedakan antara makna ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat ar-Rahman
merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh
makhluk-Nya. Sedangkan ar-Rahim adalah sifat kasih Allah yang memberikan
kenikmatan yang bersifat khusus untuk orang mukmin saja. Sebagian ulama lain
menyatakan bahwa ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan
kenikmatan yang bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim merupakan sifat kasih
Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus.[6]

Yang menguasai hari pembalasan
Dalam ayat ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i dan Ya’qub
membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Sedangkan para
qari yang lain membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad).
Meski bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama.
Sebagian ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik.
Bermakna Yang Maha Kuasa untuk menciptakan seuatu dari tidak ada menjadi ada.
Tidak ada mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT. [7]
Menurut
ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi, ayat tersebut berarti “yang memutuskan di
hari perhitungan.” Menurut Qatadah, kata ad-din berarti pembalasan. Dalam hal
ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut
Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari
ketika tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama.” Menurut pendapat lain,
kata ad-din berarti hari ketaatan.[8]
Saat itu, hanya ketaatan hamba kepada Tuhan yang menyelamatkannya dari siksaan neraka.
Menurut Al-Maraghi dalam penafsiran adalah sebagai berikut:
Dua kata ini brasal dari kata Rahman: artinya suatu gejolak jiwa yag hidup
dengan perasaan kasih sayang terhadap lainnya. Kemudian, kata ini di pakai
untuk Allah berarti Allah bersifat Rahman dan Rahim.
Kata Rahman, pengertiannya menunukkan kepada zat yang menunjukkan
bukti-bukti Rahmah-berupa kenikmatan-kenikmatan dan kebajikan-kebajikan.
Sedangkan kata Rahim menunjukkan sumber rahmah, dan Rahim menunjukkan sifat
tetap ada pada Allah.
Apabila Allah disifati dengan sifat Rahman. Hal ini dipahamkan secara
bahasa bahwa Allah pemberi kenikmatan. Tetapi sifat Rahman ini tidak bisa di
pahamkan wajib baginAllah untuk selamanya. Tetapi jika setelah sifat rahman itu Allah disifati dengan sifat
Rahim, maka sapat diketahui bahwa Allah mempunyai sifat yang tetap selamanya,
yakni Rahim. Sebagai bukti adalah kasih sayang yang berlaku selama-lamanya.
Kedua sifat ini pun mempunyai pengertian lain dengan yang dinisbatkan kepada
makhluk.[9]
C. Al ‘Asma Al
Husna
Asma ‘ul husna menurut etimologi berasal dari
berasasal dari kata al-asma dan al-husna, al-asma yang berarti nama sedangkan
husna merupakan muannasst dari al-Ahsan beraarti baik. Jadi, al-asma’ al-husna
yaitu nama-nama yang baik. Menurut Istilah yakni Allah memiliki asma-asma yang
baik yang sembilan puluh sembilan sebagaimana disebutkan dalam hadist. Selain
itu menurut Quraisy Shihab asma’ul husna memiliki suatu pegertian, yaitu dengan
meningkatkan bahwa ada fitrah insting keberagamaan dalam diri seorang insan.
Disana tertampung berbagai emosi manusia seperti rasa takut, harap, cemas,
cinta, kesetiaan, penanggungan, pensucian diri dari berbagai macam lainnya yang
mengiasi jiwa manusia.[10]
Salah satu nama Allah yang baik adalah
ar-Rahman dan ar-Rahim. Lafal ar-rahman dan ar-rahim menunjukan, Allah
menyifati diri-Nya sedengan kasih dan sayang yang maha luas. Setelah kita
mengetahui bahwa tidak ada seorang pun dan apapun yang memiliki sifat yang
menyerupai kedua sifat-Nya itu, karena
rahmat-Nya ditaburkan kepada semua makhluk, dan tak ada satu makhluk pun
yang tidak menerima rahmat walaupun sekejab mata, maka dapat kita
memahami konsekuensi-konsekuensi makna yang timbul dari keduanya, yaitu sebagai
berikut.
Pertama, kedua sifat tersebut menunjukkan kesempurnaan pada
hidup Allah, pada kekuasaan, pada cakupan ilmu, pada keberlakuan kehendak, dan
pada kebijaksanaan-Nya , karena rahmat-Nya terikat pada sifat-sifat tersebut
secara khusus.
Kedua, bahwa syariat yang diturunkan Allah merupakan nur dan
rahmat-Nya. Itulah sebabnya mengapa Alquran selalu mengaitkan dengan
hukum-hukum syara’ dengan rahmat dan kebikan-Nya karena hukum-hukum syara’
merupakan efek dan penjabaran dari rahmat tersebut.[11]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karakter seorang pendidik salah satunya adalah AR-RAHMAN dan AR-RAHIM yang
artinya pengasih dan penyayang. Karakter tersebut juga dimiliki oleh Allah SWT
hal itu terdapat dalam Al- Qur’an surat Al Fatihah ayat ke 3 yang artinya maha
Pemurah lagi maha Penyayang yang
tafsirannya Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata,
yaitu arrahman. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang
mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk
menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk
menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita
tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat
kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan. Selain di jelaskan dalam surat
Al-Fatihah juga ada dalam Al ‘Asma Al Husna yaitu asma allha berupa Ar-Rahman
dan Ar- Rahim.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman bin Nashir bin Sa’adi, 1422 H, Tafsir
zl-Lathif al-Mannan fi
Khulash Tafsir al-Qur’an, Saudi Arabia: wizarah asy-syu’unal-Islamiyah
waalAuqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arrabiyyah as-Su’uddiyyah
Al-Husaini, Abu Muhammad bin Mas’ud
al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, 1997
Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, ,
juz 1
Al-Maraghi, Mustofa, Tafsir Al-Maraghi
,terj. Jilid 1, 1993, Semarang: Toha
Putra
Choiriyah
Ihsan & Abu Ihsan al-atsary, 2013 Mencetak Generasi Rabbani
,Bogor: Darul
ilmi Publishing
Dahlan, Abd. Rahman, 2014,Kaidah-Kaidah Tafsir,
Jakarta: Amzah
Rakhmat, Jalaluddin, 1993 Tafsir Bil
Ma’tsur Pesan Moral Alqur’an,
Bandung:
PT Remaja
Rosdakarya
Ramayulis, 2012 Ilmu Pendidikan Islam,
Jakarta: Kalam Mulia,
Shihab, Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi;
Asma al-Husna dalam al-Qur’an, 2004
Jakarta:
Lentera Hati,
http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/10/makalah-tafsir-ayat-ayat-al-fatihah.html?m=1, diakses 15 Oktober 2018, 22:18 WIB
LAMPIRAN


BIODATA

Nama : Rokhana Hayati
TTL :
Pekalongan, 14 Juli 1998
Alamat :
Ds. Kwasen Kec. Kesesi Kab. Pekalongan RT 01/ RW 03
Moto Hidup :
Sentuh masa depan dengan belajar
Riwayat Pendidikan:
TK PERTIWI DESA KWASEN
SDN 02 KWASEN
SMPN 2 KESESI
SMAN 1 KESESI
Sekarang masih menempuh pendidikan di IAIN
PEKALONGAN
[2] Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al-atsary, Mencetak Generasi
Rabbani (Bogor : Darul ilmi Publishing, 2013) hlm. 47-59
[3] Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Bil Ma’tsur Pesan Moral Alqur’an ,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993) hlm. 13
[4] Abdurrahman bin Nashirbin Sa’adi, Tafsir
al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an,(Saudi Arabia: wizarah
asy-syu’unal-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah
al-Arrabiyyah as-Su’uddiyyah, 144 H, hlm. 10
[6] http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/10/makalah-tafsir-ayat-ayat-al-fatihah.html?m=1, diakses 15 Oktober 2018, 22:18 WIB.
[7] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim
at-Tanzil, (Riyadh: Dar
ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997), juz 1, hlm. 53
[10] Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam al-Qur’an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2004) hlm xvii
[11]Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-Kaidah Tafsir,( Jakarta: Amzah,2014),
hlm. 6
Langganan:
Komentar (Atom)